NASIONAL.IS.ME, MERDEKA DALAMBERCANDA, dan BERANI MENGUBAH saya beli dalam waktudan tempat yang berbeda. Buku pertama yang saya baca justru BERANI MENGUBAH, lalu, MERDEKA DALAM BECANDA, dan yangterakhir NASIONAL.IS.ME. Namun, sayaakan memulai pembahasan dengan buku NASIONAL.IS.ME.
NASIONAL.IS.ME
Membaca
buku ini, kita akan mendapat banyak pencerahantentang konsep
Nasionalisme dan ke-Indonesiaan secara sistematis. Pandjimenekankan,
bahwa kita tak seharusnya membenci sesuatu yang tak kita kenal dantak
kita pahami. Bagian ini cukup menggelitik saya, yang sering
berkoar-koartentang kebobrokan Indonesia. Pemerintahnya yang beginilah,
dunia perfilmannyayang begitulah, orang-orangnya yang noraklah, dan
banyak lagi. Padahal, sayabelum sepenuhnya mengenal, seperti apa
sebenarnya Indonesia. Saya tinggal di Madura, maka Indonesia versi
Maduralah yang saya kenal sejaklahir hingga sekarang. Benar yang Pandji
katakan dalam dihalaman 88 buku ini, bahwa begitu banyakhal-hal baik
yang terjadi di Negara ini, namun Media tak banyakmemberitakannya.
Dari diskriminasihingga harmonisasi
Kata-kata
diatas mungkintepat untuk menggambarkan kehidupan Pandji saat itu.
Pandji yang lahirdari keluarga kaya dan biasa denganlingkungan yang
mewah, merasa sangat kaget ketika dia harus sekolah diSMP Negeri
yangsiswa-siswanya bandel, dan banyak tukang palaknya. Membuat Pandji
kecil harusberhadapan dengan hal2 buruk setiap hari. Namun, yang paling
membuatnya shock dimasa itu adalah perceraian orangtuanya. Yang
memaksa dia harus menerima kenyataan, pindah dari rumah yang mewah di
Simprung, ke sebuah rumahsempit di Bintaro. Belum lagidia harus menerima
kenyataan, disisihkan oleh teman-teman sekolahnya, hanyakarena sepatu
yang dipakai bermain basket, bukan sepatu Air Jordan atau AirMax. Hal ini sempat membuat mentalnya terpuruk. Ditambah lagi Pandjibermain buruk di timnya. Pandji lalu
memilih menjauh dari lingkunganyang disebut anak-anak mampu itu, dan
bergabung dengan geng,yang terkatakan anak-anak “kurangmampu”.
Dan
saat itu jugalah suami dari Gamila Arif ini mengenal makna dari kata
“miskin”. Ketikadia mengunjungi rumah beberapa teman yang nasibnya lebih
buruk darinya. Keadaanitu membuka mata Pandji. Bahwa masih banyak orang
yang jauh “serba kekurangan”dibanding dirinya. Masa SMP adalah masa
dimana untuk pertama kalinya Pandjibelajar tentang makna hidup secara
lengkap.
Lepas SMP, Pandjimendaftar di beberapa sekolah favorit di
Jakarta, SMA 82, SMA 6, dan SMA 70.Nmaun karena NEMnya tidak cukup, Ia
gagal diterima di tiga sekolah itu. Sampai akhirnya, pilihan jatuh pada
SMAKatolik Gonzaga. Sekolah yang benar-benar menawarkan carapandang baru
bagi Pandji. Sekolahini memperbolehkan siswa-siswanya untuk tidak pakai
seragam. Bahkan saat itu SMA Gonzaga sudahmembiasakan siswanya memakai
batik setiap hari senin dan selasa. Tentu saja,jauh sebelum Indonesia
“mengenal” batik. Memang di sekolah itu akan terlihat,mana anak orang
kaya, dan mana anak orang miskin? Namun justru dari situlah siswa-siswa
SMA Gonzaga belajar bahwaperbedaan bukan sesuatu yang membuat canggung,
melainkan sesuatu yang haruskita terima dan kita jaga. Lebih baikkita
meerima perbedaan, tapi tidak menjadikannya masalah. Daripada
demihilangnya masalah, perbedaan itu disamaratakan, Dijadikan satu. begitu kataPandji.
Pelajaran lain yang didapat ketika masa SMAnya adalah saat study tour.
Ketika Ia dan temansekolahnya tinggal di sebuah desa di Lampung, hidup
dalam kesederhanaan, dan bergaul bersama orang-orang desa yang ramah. Sampai
suatu malam, dimalam terakhirdidesa itu, Pandji dan teman-temannya
disuguhi ayam goreng oleh tuan rumah yangIa tinggali. Menu yang terasa
sangat mewah malam itu, karena setiap malamnyatuan rumah hanya
menyuguhinya tempe, kangkung, dan mie instan. Disitulah Pandjimengerti, ketika kita memberi dalamketerbatasan, muncullah pengorbanan. Saat pemberian menjadi besar sekali artinya.
Sementara
masa kuliah adalah masa dimana Pandji menjadibagian dari sejarah kelam
Indonesia saat itu. Ia memang tak secara langsungikut dalam kerusuhan
yang terjadi di Trisakti, namun Pandji ikut turun ke jalanbersama
teman-teman Mahasiswa di Bandung. Dalam rangka penumbangan
rezimSoeharto.
Au Neko
Lewat buku ini kita akan melihat juga pengalaman-pengalamanPandji dalam “menyelami”Indonesia. Melalui tulisannya yang berjudul, DariSabang sampai Merauke, Pandji
menggambarkan nya dengan penuh keramahan, dankesahajaan. Dalam
perjalanannya dari Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya,Manado,
Padang, Makassar, Kupang, Belitung, Jayapura, Bali, Jakarta, dan
Medan,kita akan terhanyut di dalam bagian-bagian yang membuat kita
senang, haru, mirisdan bahkan bisa membatin Damn!. Sepertiperjalanan
ke Kupang misalnya, Ketika Pandji bertemu dengan Ibu-ibu diPuskesmas,
dan menggendong anak-anak mereka yang kurus dan kurang gizi. Serta
gambarancinta seorang Ibu pada anaknya. Menggendongnya dengan kasih,
sambil membisikkan Auneko, yang artinya “Aku sayang kamu”. Yah,
Pandji memang benar, bagaimanapun keadaannya, tak ada orang tuayang mau
anaknya sakit, tak ada orang tua yang mau anaknya sedih. Cinta adalah
hal terakhir yang mutlak kitabisa berikan pada anak kita, ketika kita
tidak bisa, tidak kuasa memberikan apapun lagi. Kutipan diatas menunjukkan kemurnian, dan kecemerlangan Pandjidalam menarasikan sebuah cerita. Sungguh mengharukan.
Perjuangan itu...
Bagimereka yang telah kenal Pandji dan telah aktif di twitter sejak tahun 2009,pasti tahu dengan gerakan #IndonesiaUnite.Sebuah
gerakan positif yang sempat ramai dibicarakan dikalangan anak
muda.Ramai jadi perbincangan di jejaring sosial, juga dilingkungan saya
dipesantren, walaupun saat itu hanya sekedar ikut-ikutan. Saya sering
nulis Indonesia Unite di buku pelajaran saya. Jujur,saat itu saya tak tahu apa maksudnya. Dalam buku setebal 330 ini kitaakan mengetahui pula sejarah gerakan #IndonesiaUniteDari
awal mula asal-usul kelahiran serta perkembangan, dan
lika-likuperjuangannya sebagai sebuah gerakan Ideologis dengan
tujuan-tujuan yang sangatjelas dan mendasar. Yang pada mulanya, #IndonesiaUnitehanyalah sebuah gerakan yang terbentuk pada tanggal 17 Juli 2009, dalam bentuk hastag twitter. Sebagai reaksi penggunatwitter terhadap isu terorisme. Diikuti dengan teriakan KAMI TIDAK TAKUT. Namun bukan berarti #IndonesiaUnite itu gerakan anti terorisme, Indonesia Unite merupakan sebuah gerakan, dan semangat yangada dalam diri setiap Bangsa untuk menciptakan perubahan. Indonesia Unite
adalah bentuk kepedulian pemudaterhadap Indonesia. Yang tak kalah
penting diulas dalam buku ini adalah tentangperjuangan Pandji dalam
menyatakandiri sebagai orang Indonesia yang Patriotis. Diantaranya
menjadi donortetap untuk seorang penderitaThalassemia, menjadi relawan C3 (Community for Children with cancer), Indonesia Mengajar, serta lewat karya-karyanya di jalur musik.
Memang seharusnya kita bersatu, Walaubukan menjadi satu.
Di
akhirpembahasan tentang Indonesia Unite, ada satu lagi, sebuah cerita
mengharukanyang dialami Pandji bersama Glenn Fredly. Saat itu Glenn
Fredly mengajak Pandjike sebuh acara bertajuk “DOLOE SOEMPAH PEMUDA,
KINI INDONESIA UNITE” yangmembawa misi menyatukan pengkotak-kotakan
agama.
Acaratersebut diadakan oleh Glenn bersama komunitas
gerejanya. Glenn mengundangPandji sebagai wakil saudara-saudaraumat
Islam, sekaligus untuk mengisi acara yang diselenggarakan di DBEST
Fatmawati itu. Pandji yang sudahterbiasa hidup di lingkungan berbeda
agama, tidak merasa canggung beradadiantara mereka yang beragama
kristen. Bahkan, nama Pandji disebut dalam doamereka.
Beberapasaat
kemudian, Pandji dipanggil ke atas panggung, dan diminta memberi
sambutansebagai tamu muslim. Saat Pandji mengucapkan “selamat malam”,
Glenn justrumenyuruh Pandji untuk mengucap salam sebagaimana yang
diajarkan Islam. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh”maka
seisi ruangan pun menjawab, dengan hal yang sama. Saat itulah
Pandjimerasakan damai, karena dua agama telah bersatu, tanpa ada yang
merasa palingbenar.
Jujur,saya hampir menangis membacanya.
Mengingat saya sedang mambawa Visi dan Misiyang sama dengan Glenn dan
Mas Pandji. Yaitu menciptakan harmonisasi kehidupanberagama. Saya ingin
curhat sebentar, di Kampus saya Fakultas SastraUniversitas Jember, saya
menjadi bagian dari UKM LeKFAS. (Lembaga kerihanianFakultas Sastra),
yang menjadi satu-satunya UKM Kerohanian di Indonesia yangmenaungi semua
agama. (Mas Pandji boleh Cek di FB kami) J. Ketika Natal, kami
membantu teman-teman Kristendan Katolik membuat Pohon Natal, begitu juga
dengan teman-teman Hindu, Budha,dan lain-lain. Juga sebaliknya. Di
Sekretariat kami, gambar lambang agamaberada dalam satu frame.
Semua itubarawal dari aksi pembakaran gereja oleh teman- teman Muslim
beraliran gariskeras yang terjadi Situbondo beberapa tahun silam. Maka
pada tahun 1996, atasnama ingin menciptakan keharmonisan beragama, maka
terbentuklah LeKFAS olehBapak Taufiq, yang saat ini telah menjadi dosen
kami. Kami (LeKFAS) inginmenunjukkan pada mereka yang telah terlanjur
disakiti, bahwa Islam adalah agamadamai, dan kami memiliki cinta.
Bahkan, beberapa waktu lalu, kami sempatmengadakan seminar lintas agama.
Semoga suatu hari nanti kami bisa mendatangkanMas Pandji dalam acara
kami. J
BERANIMENGUBAH
Membaca
karya-karya Pandji dalam buku ini, kita seakandihidangkan berbagai
makanan lezat yang semuanya nikmat untuk dilahap. Karena
berisinarasi-narasi yang penuh kejutan.
Melihat Indonesia dari A sampai Z
Menelusuri
halaman demi halaman buku ini, kita akanmerasakan betapa uniknya
gagasan seorang Pandji dalam melihat sebuah peristiwa,ia selalu
memandangnya dari sudut pandang dia sebagai Pemuda. Pesan pertamayang
saya dapat dalam buku BeraniMengubah adalah, Sudah berbuat apa
saya untuk bangsa ini? pemuda macam apasaya? buku ini adalah salah satu,
dari berbagai jenis buku yang mampu menyentuhsaya sebagai pembaca.
Sebagai pembacayang yang terkatakan PEMUDA lebih tepatnya. Yang
terkatakan sebagai agent of chance, agent of control, danberbagai
selogan lainnya. Namun, bukan tidak mungkin citra yang begitu ‘wow’
itu justru bertolak belakang. Semisal, ia hanyapandai dengan memoles
tampilan luar dirinya, dengan kesan-kesan necis dan gaulseperti kaum
borjuis dan elitis. Dengan mengumbar sifat glamouritas danhedonismenya.
Apalagi lupa dengan jati dirinya dan tanggung jawabnya sebagaikaum
intelektual yang mengharuskan dirinya untuk selalu peka terhadap
kondisisosial. Dari Deskripsidi atas, dapat ditarik benang merah bahwa,
mahasiswa sebagai agen selalu hadirdalam menentukan setiap arah gerak
perubahan berbangsa dan bernegara. Dalambahasa Antonio Gramsci, seorang
intelektual harus dapat membahasakan sekiankeresahan-keresahan yang
melingkari kondisi eksistensi sosial dalam masyarakatnya.Sejarah pun
mencatat, setiap momen perubahan yangada di negeri ini ataupun dibelahan
dunia manapun, mahasiswa atau pemuda selalumendapat tempat utama. Baik
sebagai aktor intelektual maupun aktor lapangan. Di Indonesia sendiri,
kekuatanmahasiswa terbukti dalam serangkaian revolusi besar seperti pada
saat penggulingan Soekarno diIndonesia tahun 1966, sampai penggulingan
tirani orba menuju era reformasi. Dariderasnya arus polarisasi peradaban
yang tak bisa ditebak, dengan satu rezim zamanke rezim zaman yang lain,
menjadikan paradoksal bagi kaum intelektual. Artinya,bisakah kita
memahami secara mendalam bingkai dalam konteks tanggung jawab.
Pandji
juga mengungkapkan pandangannya sebagai pemerhatidunia politik
Indonesia, dimana Ia mengkritisi pemerintahan Soeharto dan SBYyang
memang mengalami banyak perubahan, namun tak berarti lebih baik. Tak
hanyaitu, host SUCI 1-3 juga menyentilpribadi kita. Kita akan
merasakan bagaimana Pandji yang dengan tekun dan takkenal menyerah,
menularkan semangat perubahan pada kita semua.
Mendengar kata
perubahan, kita seakan-akan dihadapkan padasesuatu yang besar,
seakan-akan kita diharuskan mengubah Indonesia secarakeseluruhan.
Padahal, perubahan, atau revolusi itu, bisa dimulai dari dirisendiri.
Dan disini Pandji menggambarkan perubahan dengan mengajak kita
“peduli”terhadap realita yang terjadi di di sekitar kita. Lebih melek politik, Ekonomi, Hukum, dan lain-lain. Melek politik, bukan berarti kita harus terjun ke dunia politik.Tapi bisa dimulai dengan updateberita-berita
politik, dan memiliki wacana politik, namun, apabila kita memang
memilikikemampuan disalah satu bidang dalam dunia politik itu, kita bisa
masuk, danmemulai perubahan didalamnya. Intinya, kita harus mulaii
belajar untuk peduli.
Masih bisakah kita tertawa dan
berbahagia,bila secara pemikiran dan mentalitas saja kita masih lumpuh?
Hal ini mengingatkan saya tentangdiskursus yang berbunyi, “kematianperadaban selalu diawali dengan miskinnyakesadaran reflektif-diskursif (discoursive conciousness)masyarakatnya”. Dengankonteks seperti itu, sudah selayaknya para elemen bangsa ini tidak hanya
rutin melakukan ritualperingatan hari besar kebangsaan yang malah
terkesan artifisial. Karena ketika berbicara Indonesia, berarti
jugaberbicara tentang kecintaan, kepedulian, dan bagaimana memiliki
sikap salingmenghargai perbedaan yang ada. Mencoba menanamkan dalam
diri, bahwa bukan urusan kita membuat seisi Bumi menjadiseragam.
Jadi, tak perlu kita membenci mereka yang tak satu pemikirandengan kita.
Perpecahan itu terjadi karena kita belum mampu memahami
konseptoleransi. Bahkan, Islam sebagai agama mayoritas kadang terkesan sebagai agama eksklusif, terpaku pada normatif, statis dantidak toleran. Dan itu karena ulahorang-orangnya. Jadi, Mari menjadiduta yang baik, untuk agama kita masing-masing.
Poin
lain yang saya dapat dari buku inidiantaranya tentang fakta Industri
tembakau, ulasan tentang resistensi yangterjadi di Papua dan
Timor-timor, sehingga memunculkan gerakan-gerakan inginmembebaskan diri
dari Indonesia, konsep beragama yang masih terasa rancu maknanya,
serta kobaran semangatbahwa Indonesia masih sangat berpeluang untuk
bisa bangkit. Benar-benarmengaduk pikiran. Antara kesal, bingung, dan
senang. Membayangkan betapa Negeriyang sedang butuh perubahan. Dan
kitalah aktornya!
Benang merahnya adalah, bagimanapun, kita
sudah harus mampu berfikirkritis, analisa dan memahami setiap persoalan
dengan cerdas. Hal itu menjadi semacam kebutuhan yang mutlakdibutuhkan.
Pengaktualisasian dalam bentuk tindakan sangatlah perludiperhatikan.
Sulit memang mewujudkannya, tapi pasti bisa!!! Bukan begitu Mas Pandji? J
MERDEKA DALAMBERCANDA
Sebagai Orang yang memiliki andil besar dalam komunitas StandUp Comedy Indonesia,
dalam buku ini, lelaki pemilik nama panjang PandjiPragiwaksono
Wongsoyudo ini membahas beragam Informasi, perenungan, dankecintaannya
terhadap dunia Stand Up Comedy Indonesia.
Pengetahuannya atas beragam disiplin keilmuan, musik, Host, Stand Up, dan dengan latarbelakang pendidikan di desain grafis
ITB, tidaklantas melunturkan kesan cerdas terhadap sosok bertubuh
gempal ini. Buku iniberisi tulisan tentang catatan perjalanan
membangkitkan Stand Up Comedy di Indonesia.
Tentang Stand Up Comedy
Stand Up Comedy sendirimerupakan sebuah seni, dimana seorang komedian yang biasanya disebut comic,
berdiri menyampaikan leluconmelalui monolog. Lelucon yang disampaikan
umumnya tentang fenomena-fenomenayang terjadi di sekitar masyarakat.
Atau, keresahan-keresahan yang dilihat paracomic tentang realita
sosial, namundikemas menjadi sesuatu yang cerdas dan tidak biasa.
Menghibur sekaligus mencerahkan. Jenaka tanpaharus melupakan persoalan
bangsa.
Dalam buku yang terbit pada tahun 2012 lalu ini,
Pandjimenekankan bahwa komunitas ini tidak dibentuk sembarangan. Tapi
dibentuk secarateratur, serta mempunyai visi-misi, dan struktur yang
jelas. Dan satu lagi,tidak semua orang bisa menjadi comic.Karena
seorang comic harus sering berlatih, belajar analisis sosial,
rajinmembaca, dan juga menulis materi.Karena tingkat kepekaan seorang comic,sangat berpengaruh terhadap penerimaan penonton.
Buku ini bisa mengisi kekosongan pengetahuan kita tentang Stand Up Comedy Indonesia. Sumbanganyang besar arti dan nilainya. Agar tak ada lagi orang yang menganggapbahwa Stand Up Comedy hanya jadi gerakan atributif saja (bagi orang-orangyang tidak terlalu memahami dinamika dan dialektika panjang gerakan Stand Up Comedy,
seperti saya sebelum membaca buku ini). Yangpenting lucu, tanpa
memikirkan dan mencoba tahu sejarah terbentuknya gerakan ini. Hal ini
terjadi karena kebanyakan orangtidak mau belajar atau mencoba mencari
tahu perjalanan sejarah. Itulah sebabnyabanyak terjadi
penafsiran-penafsiran sejarah yang asal-asalan. Begitu jugadengan
sejarah Stand Up Comedy.Banyak orang hanya mengerti Stand UpComedy sebagai hiburan, trend, yangkapan saja bisa redup.
Nama-nama,seperti
Warkop, Taufik Safalas, Ramon Papana, Indra Yudhisira, Agus Mulyadi,dan
Raditya Dika. Adalah orang-orang yang punya kontribusi besar terhadap
duniaStand Up Comedy Indonesia.
Viva la Komtung!
Stand Up Comedy Indonesia
atau disingkat SUCI, memang baru lahir sekitarsatu setengah tahun lalu,
diawali dengan kompetesi SUCI season 1 yangditayangkan di Kompas TV,
Namun meskipun begitu, perkembangannya tergolongpesat. Terbukti dengan
munculnya cabang-cabang SUCI hampir di setiap kota diIndonesia, termasuk
di kota yang saya tinggali sekarang, Jember.
Selain informasilengkap mengenai kemunculan genrebaru
dunia komedi Indonesia ini, Pandji juga membahas teori dan
istilah-istilahpenting dalam Stand Up Comedy secara lengkap. Seperti, Bit, Set, Set Up, Punchline, Kill, dan Bomb. Ada juga Call back,Rule of 3, Act out, Impersonation, Riffing, One liner, Gimmick, dan Hecklers.
Sejak
halaman awal hingga akhir buku ini, kita akanmerasakan perjuangan
Pandji dalam menyebarkan “virus’ Stand Up Comedy.Bergerilya dari
panggung ke panggung, sampai akhirnya, tepat tanggal 28Desember 2011,
Bersama Ernest Prakasa @ernestprakasa, Sammy D Putra @notaslimboy,Rindra
@ponakannyaom, Asep Suaji @asepsuaji, dan Luqman Baihaqi @luqmanbhq,
danbanyak lagi yang lainnya, Ayah dua anak ini berhasil mencetuskan
sebuah acarayang menjadi penanda lahirnya sebuah genre komedi baru di
Indonesia. Yang Iaberi nama “Bhinneka Tunggal Tawa”. Dengan ditonton
ratusan orang, membuktikanbahwa Stand Up Comedy telah diterima di
Indonesia. selanjutnya, di tahun 2012,banyak sekali even-even keren yang
tak hanya mampu menghibur, tapi jugamenginspirasi banyak orang.
Walaupun baru muncul, SUCI mampu bersaing dengan acara-acara komedi
lainnya.
Semangat yang sama akan kita lihat pada karya-karyanya,
terbaca darikomentar-komentarnya yang sering dilontarkan dalam acara
televisi, atau melaluikicauannya dalam jejaring sosial. Begitu kuat
kecintaan dan kerinduannya terhadap Stand Up Comedy, Sebesarkecintaannya
terhadap Negara ini. Sehingga ia mau menghabiskan energinya
untukmembedah beragam peristiwa apapun di Negara ini, dengan sudut
pandangnya yangberaneka.
Buku ini sangat tepat untuk dijadikan
salah satu referensitentang Stand Up Comedy, tentang sejarah dan
perkembangannya.Terutama bagi mereka yang mengaku dirinya sebagai
seorang Comic, atau penikmat jenis komedi ini.[]


0 komentar:
Posting Komentar