• home
Home » » Saya, dan cerita tiga buku Pandji

Saya, dan cerita tiga buku Pandji


NASIONAL.IS.ME, MERDEKA DALAMBERCANDA, dan BERANI MENGUBAH saya beli dalam waktudan tempat yang berbeda. Buku pertama yang saya baca justru BERANI MENGUBAH, lalu, MERDEKA DALAM BECANDA, dan yangterakhir NASIONAL.IS.ME. Namun, sayaakan memulai pembahasan dengan buku NASIONAL.IS.ME.



NASIONAL.IS.ME

Membaca buku ini, kita akan mendapat banyak pencerahantentang konsep Nasionalisme dan ke-Indonesiaan secara sistematis. Pandjimenekankan, bahwa kita tak seharusnya membenci sesuatu yang tak kita kenal dantak kita pahami. Bagian ini cukup menggelitik saya, yang sering berkoar-koartentang kebobrokan Indonesia. Pemerintahnya yang beginilah, dunia perfilmannyayang begitulah, orang-orangnya yang noraklah, dan banyak lagi. Padahal, sayabelum sepenuhnya mengenal, seperti apa sebenarnya Indonesia. Saya tinggal di Madura, maka Indonesia versi Maduralah yang saya kenal sejaklahir hingga sekarang. Benar yang Pandji katakan dalam dihalaman 88 buku ini, bahwa begitu banyakhal-hal baik yang terjadi di Negara ini, namun Media tak banyakmemberitakannya.

Dari diskriminasihingga harmonisasi
Kata-kata diatas mungkintepat untuk menggambarkan kehidupan Pandji saat itu. Pandji yang lahirdari keluarga kaya dan biasa denganlingkungan yang mewah, merasa sangat kaget ketika dia harus sekolah diSMP Negeri yangsiswa-siswanya bandel, dan banyak tukang palaknya. Membuat Pandji kecil harusberhadapan dengan hal2 buruk setiap hari. Namun, yang paling membuatnya shock dimasa itu adalah perceraian orangtuanya. Yang memaksa dia harus menerima kenyataan, pindah dari rumah yang mewah di Simprung, ke sebuah rumahsempit di Bintaro. Belum lagidia harus menerima kenyataan, disisihkan oleh teman-teman sekolahnya, hanyakarena sepatu yang dipakai bermain basket, bukan sepatu Air Jordan atau AirMax. Hal ini sempat membuat mentalnya terpuruk. Ditambah lagi Pandjibermain buruk di timnya. Pandji lalu memilih menjauh dari lingkunganyang disebut anak-anak mampu itu, dan bergabung dengan geng,yang terkatakan anak-anak “kurangmampu”.
Dan saat itu jugalah suami dari Gamila Arif ini mengenal makna dari kata “miskin”. Ketikadia mengunjungi rumah beberapa teman yang nasibnya lebih buruk darinya. Keadaanitu membuka mata Pandji. Bahwa masih banyak orang yang jauh “serba kekurangan”dibanding dirinya. Masa SMP adalah masa dimana untuk pertama kalinya Pandjibelajar tentang makna hidup secara lengkap.
Lepas SMP, Pandjimendaftar di beberapa sekolah favorit di Jakarta, SMA 82, SMA 6, dan SMA 70.Nmaun karena NEMnya tidak cukup, Ia gagal diterima di tiga sekolah itu. Sampai akhirnya, pilihan jatuh pada SMAKatolik Gonzaga. Sekolah yang benar-benar menawarkan carapandang baru bagi Pandji. Sekolahini memperbolehkan siswa-siswanya untuk tidak pakai seragam. Bahkan saat itu SMA Gonzaga sudahmembiasakan siswanya memakai batik setiap hari senin dan selasa. Tentu saja,jauh sebelum Indonesia “mengenal” batik. Memang di sekolah itu akan terlihat,mana anak orang kaya, dan mana anak orang miskin? Namun justru dari situlah siswa-siswa SMA Gonzaga belajar bahwaperbedaan bukan sesuatu yang membuat canggung, melainkan sesuatu yang haruskita terima dan kita jaga. Lebih baikkita meerima perbedaan, tapi tidak menjadikannya masalah. Daripada demihilangnya masalah, perbedaan itu disamaratakan, Dijadikan satu. begitu kataPandji.
Pelajaran lain yang didapat ketika masa SMAnya adalah saat study tour. Ketika Ia dan temansekolahnya tinggal di sebuah desa di Lampung, hidup dalam kesederhanaan, dan bergaul bersama orang-orang desa yang ramah. Sampai suatu malam, dimalam terakhirdidesa itu, Pandji dan teman-temannya disuguhi ayam goreng oleh tuan rumah yangIa tinggali. Menu yang terasa sangat mewah malam itu, karena setiap malamnyatuan rumah hanya menyuguhinya tempe, kangkung, dan mie instan. Disitulah Pandjimengerti, ketika kita memberi dalamketerbatasan, muncullah pengorbanan. Saat pemberian menjadi besar sekali artinya.
Sementara masa kuliah adalah masa dimana Pandji menjadibagian dari sejarah kelam Indonesia saat itu. Ia memang tak secara langsungikut dalam kerusuhan yang terjadi di Trisakti, namun Pandji ikut turun ke jalanbersama teman-teman Mahasiswa di Bandung. Dalam rangka penumbangan rezimSoeharto.

Au Neko

Lewat buku ini kita akan melihat juga pengalaman-pengalamanPandji dalam “menyelami”Indonesia. Melalui tulisannya yang berjudul, DariSabang sampai Merauke, Pandji menggambarkan nya dengan penuh keramahan, dankesahajaan. Dalam perjalanannya dari Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya,Manado, Padang, Makassar, Kupang, Belitung, Jayapura, Bali, Jakarta, dan Medan,kita akan terhanyut di dalam bagian-bagian yang membuat kita senang, haru, mirisdan bahkan bisa membatin Damn!. Sepertiperjalanan ke Kupang misalnya, Ketika Pandji bertemu dengan Ibu-ibu diPuskesmas, dan menggendong anak-anak mereka yang kurus dan kurang gizi. Serta gambarancinta seorang Ibu pada anaknya. Menggendongnya dengan kasih, sambil membisikkan Auneko, yang artinya “Aku sayang kamu”. Yah, Pandji memang benar, bagaimanapun keadaannya, tak ada orang tuayang mau anaknya sakit, tak ada orang tua yang mau anaknya sedih. Cinta adalah hal terakhir yang mutlak kitabisa berikan pada anak kita, ketika kita tidak bisa, tidak kuasa memberikan apapun lagi. Kutipan diatas menunjukkan kemurnian, dan kecemerlangan Pandjidalam menarasikan sebuah cerita. Sungguh mengharukan.

Perjuangan itu...

Bagimereka yang telah kenal Pandji dan telah aktif di twitter sejak tahun 2009,pasti tahu dengan gerakan #IndonesiaUnite.Sebuah gerakan positif yang sempat ramai dibicarakan dikalangan anak muda.Ramai jadi perbincangan di jejaring sosial, juga dilingkungan saya dipesantren, walaupun saat itu hanya sekedar ikut-ikutan. Saya sering nulis Indonesia Unite di buku pelajaran saya. Jujur,saat itu saya tak tahu apa maksudnya. Dalam buku setebal 330 ini kitaakan mengetahui pula sejarah gerakan #IndonesiaUniteDari awal mula asal-usul kelahiran serta perkembangan, dan lika-likuperjuangannya sebagai sebuah gerakan Ideologis dengan tujuan-tujuan yang sangatjelas dan mendasar. Yang pada mulanya, #IndonesiaUnitehanyalah sebuah gerakan yang terbentuk pada tanggal 17 Juli 2009, dalam bentuk hastag twitter. Sebagai reaksi penggunatwitter terhadap isu terorisme. Diikuti dengan teriakan KAMI TIDAK TAKUT. Namun bukan berarti #IndonesiaUnite itu gerakan anti terorisme, Indonesia Unite merupakan sebuah gerakan, dan semangat yangada dalam diri setiap Bangsa untuk menciptakan perubahan. Indonesia Unite adalah bentuk kepedulian pemudaterhadap Indonesia. Yang tak kalah penting diulas dalam buku ini adalah tentangperjuangan Pandji dalam menyatakandiri sebagai orang Indonesia yang Patriotis. Diantaranya menjadi donortetap untuk seorang penderitaThalassemia, menjadi relawan C3 (Community for Children with cancer), Indonesia Mengajar, serta lewat karya-karyanya di jalur musik.

Memang seharusnya kita bersatu, Walaubukan menjadi satu.

Di akhirpembahasan tentang Indonesia Unite, ada satu lagi, sebuah cerita mengharukanyang dialami Pandji bersama Glenn Fredly. Saat itu Glenn Fredly mengajak Pandjike sebuh acara bertajuk “DOLOE SOEMPAH PEMUDA, KINI INDONESIA UNITE” yangmembawa misi menyatukan pengkotak-kotakan agama.
Acaratersebut diadakan oleh Glenn bersama komunitas gerejanya. Glenn mengundangPandji  sebagai wakil saudara-saudaraumat Islam, sekaligus untuk mengisi acara yang diselenggarakan di  DBEST Fatmawati itu. Pandji yang sudahterbiasa hidup di lingkungan berbeda agama, tidak merasa canggung beradadiantara mereka yang beragama kristen. Bahkan, nama Pandji disebut dalam doamereka.
Beberapasaat kemudian, Pandji dipanggil ke atas panggung, dan diminta memberi sambutansebagai tamu muslim. Saat Pandji mengucapkan “selamat malam”, Glenn justrumenyuruh Pandji untuk mengucap salam sebagaimana yang diajarkan Islam. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh”maka seisi ruangan pun menjawab, dengan hal yang sama. Saat itulah Pandjimerasakan damai, karena dua agama telah bersatu, tanpa ada yang merasa palingbenar.
Jujur,saya hampir menangis membacanya. Mengingat saya sedang mambawa Visi dan Misiyang sama dengan Glenn dan Mas Pandji. Yaitu menciptakan harmonisasi kehidupanberagama. Saya ingin curhat sebentar, di Kampus saya Fakultas SastraUniversitas Jember, saya menjadi bagian dari UKM LeKFAS. (Lembaga kerihanianFakultas Sastra), yang menjadi satu-satunya UKM Kerohanian di Indonesia yangmenaungi semua agama. (Mas Pandji boleh Cek di FB kami) J. Ketika Natal, kami membantu teman-teman Kristendan Katolik membuat Pohon Natal, begitu juga dengan teman-teman Hindu, Budha,dan lain-lain. Juga sebaliknya. Di Sekretariat kami, gambar lambang agamaberada dalam satu frame. Semua itubarawal dari aksi pembakaran gereja oleh teman- teman Muslim beraliran gariskeras yang terjadi Situbondo beberapa tahun silam. Maka pada tahun 1996, atasnama ingin menciptakan keharmonisan beragama, maka terbentuklah LeKFAS olehBapak Taufiq, yang saat ini telah menjadi dosen kami. Kami (LeKFAS) inginmenunjukkan pada mereka yang telah terlanjur disakiti, bahwa Islam adalah agamadamai, dan kami memiliki cinta. Bahkan, beberapa waktu lalu, kami sempatmengadakan seminar lintas agama. Semoga suatu hari nanti kami bisa mendatangkanMas Pandji dalam acara kami. J

BERANIMENGUBAH
Membaca karya-karya Pandji dalam buku ini, kita seakandihidangkan berbagai makanan lezat yang semuanya nikmat untuk dilahap. Karena berisinarasi-narasi yang penuh kejutan.

Melihat Indonesia dari A sampai Z

Menelusuri halaman demi halaman buku ini, kita akanmerasakan betapa uniknya gagasan seorang Pandji dalam melihat sebuah peristiwa,ia selalu memandangnya dari sudut pandang dia sebagai Pemuda. Pesan pertamayang saya dapat dalam buku BeraniMengubah adalah, Sudah berbuat apa saya untuk bangsa ini? pemuda macam apasaya? buku ini adalah salah satu, dari berbagai jenis buku yang mampu menyentuhsaya sebagai pembaca. Sebagai pembacayang yang terkatakan PEMUDA lebih tepatnya. Yang terkatakan sebagai agent of chance, agent of control, danberbagai selogan lainnya. Namun, bukan tidak mungkin citra yang begitu ‘wow’ itu justru bertolak belakang. Semisal, ia hanyapandai dengan memoles tampilan luar dirinya, dengan kesan-kesan necis dan gaulseperti kaum borjuis dan elitis. Dengan mengumbar sifat glamouritas danhedonismenya. Apalagi lupa dengan jati dirinya dan tanggung jawabnya sebagaikaum intelektual yang mengharuskan dirinya untuk selalu peka terhadap kondisisosial. Dari Deskripsidi atas, dapat ditarik benang merah bahwa, mahasiswa sebagai agen selalu hadirdalam menentukan setiap arah gerak perubahan berbangsa dan bernegara. Dalambahasa Antonio Gramsci, seorang intelektual harus dapat membahasakan sekiankeresahan-keresahan yang melingkari kondisi eksistensi sosial dalam masyarakatnya.Sejarah pun mencatat, setiap momen perubahan yangada di negeri ini ataupun dibelahan dunia manapun, mahasiswa atau pemuda selalumendapat tempat utama. Baik sebagai aktor intelektual maupun aktor lapangan. Di Indonesia sendiri, kekuatanmahasiswa terbukti dalam serangkaian revolusi besar seperti pada saat penggulingan Soekarno diIndonesia tahun 1966, sampai penggulingan tirani orba menuju era reformasi. Dariderasnya arus polarisasi peradaban yang tak bisa ditebak, dengan satu rezim zamanke rezim zaman yang lain, menjadikan paradoksal bagi kaum intelektual. Artinya,bisakah kita memahami secara mendalam bingkai dalam konteks tanggung jawab.

Pandji juga mengungkapkan pandangannya sebagai pemerhatidunia politik Indonesia, dimana Ia mengkritisi pemerintahan Soeharto dan SBYyang memang mengalami banyak perubahan, namun tak berarti lebih baik. Tak hanyaitu, host SUCI 1-3 juga menyentilpribadi kita. Kita akan merasakan bagaimana Pandji yang dengan tekun dan takkenal menyerah, menularkan semangat perubahan pada kita semua. 

Mendengar kata perubahan, kita seakan-akan dihadapkan padasesuatu yang besar, seakan-akan kita diharuskan mengubah Indonesia secarakeseluruhan. Padahal, perubahan, atau revolusi itu, bisa dimulai dari dirisendiri. Dan disini Pandji menggambarkan perubahan dengan mengajak kita “peduli”terhadap realita yang terjadi di di sekitar kita. Lebih melek politik, Ekonomi, Hukum, dan lain-lain. Melek politik, bukan berarti kita harus terjun ke dunia politik.Tapi bisa dimulai dengan updateberita-berita politik, dan memiliki wacana politik, namun, apabila kita memang memilikikemampuan disalah satu bidang dalam dunia politik itu, kita bisa masuk, danmemulai perubahan didalamnya. Intinya, kita harus mulaii belajar untuk peduli.

Masih bisakah kita tertawa dan berbahagia,bila secara pemikiran dan mentalitas saja kita masih lumpuh? Hal ini mengingatkan saya tentangdiskursus yang berbunyi, “kematianperadaban selalu diawali dengan miskinnyakesadaran reflektif-diskursif (discoursive conciousness)masyarakatnya”. Dengankonteks seperti itu, sudah selayaknya para elemen bangsa ini tidak hanya rutin melakukan ritualperingatan hari besar kebangsaan yang malah terkesan artifisial. Karena ketika berbicara Indonesia, berarti jugaberbicara tentang kecintaan, kepedulian, dan bagaimana memiliki sikap salingmenghargai perbedaan yang ada. Mencoba menanamkan dalam diri, bahwa bukan urusan kita membuat seisi Bumi menjadiseragam. Jadi, tak perlu kita membenci mereka yang tak satu pemikirandengan kita. Perpecahan itu terjadi karena kita belum mampu memahami konseptoleransi. Bahkan, Islam sebagai agama mayoritas kadang terkesan sebagai agama eksklusif, terpaku pada normatif, statis dantidak toleran. Dan itu karena ulahorang-orangnya. Jadi, Mari menjadiduta yang baik, untuk agama kita masing-masing.
 
Poin lain yang saya dapat dari buku inidiantaranya tentang fakta Industri tembakau, ulasan tentang resistensi yangterjadi di Papua dan Timor-timor, sehingga memunculkan gerakan-gerakan inginmembebaskan diri dari Indonesia, konsep beragama yang masih terasa rancu maknanya, serta kobaran semangatbahwa Indonesia masih sangat berpeluang untuk bisa bangkit. Benar-benarmengaduk pikiran. Antara kesal, bingung, dan senang. Membayangkan betapa Negeriyang sedang butuh perubahan. Dan kitalah aktornya!

Benang merahnya adalah, bagimanapun, kita sudah harus mampu berfikirkritis, analisa dan memahami setiap persoalan dengan cerdas. Hal itu menjadi semacam kebutuhan yang mutlakdibutuhkan. Pengaktualisasian dalam bentuk tindakan sangatlah perludiperhatikan. Sulit memang mewujudkannya, tapi pasti bisa!!! Bukan begitu Mas Pandji? J

MERDEKA DALAMBERCANDA

Sebagai Orang yang memiliki andil besar dalam komunitas StandUp Comedy Indonesia, dalam buku ini, lelaki pemilik nama panjang PandjiPragiwaksono Wongsoyudo ini membahas beragam Informasi, perenungan, dankecintaannya terhadap dunia  Stand Up Comedy Indonesia.
Pengetahuannya atas beragam disiplin keilmuan, musik, Host, Stand Up, dan dengan latarbelakang pendidikan di desain grafis ITB, tidaklantas melunturkan kesan cerdas terhadap sosok bertubuh gempal ini. Buku iniberisi tulisan tentang catatan perjalanan membangkitkan Stand Up Comedy di Indonesia.

Tentang Stand Up Comedy

Stand Up Comedy sendirimerupakan sebuah seni, dimana seorang komedian yang biasanya disebut comic, berdiri menyampaikan leluconmelalui monolog. Lelucon yang disampaikan umumnya tentang fenomena-fenomenayang terjadi di sekitar masyarakat. Atau, keresahan-keresahan yang dilihat paracomic tentang realita sosial, namundikemas menjadi sesuatu yang cerdas dan tidak biasa. Menghibur sekaligus mencerahkan. Jenaka tanpaharus melupakan persoalan bangsa.
Dalam buku yang terbit pada tahun 2012 lalu ini, Pandjimenekankan bahwa komunitas ini tidak dibentuk sembarangan. Tapi dibentuk secarateratur, serta mempunyai visi-misi, dan struktur yang jelas. Dan satu lagi,tidak semua orang bisa menjadi comic.Karena seorang comic harus sering berlatih, belajar analisis sosial, rajinmembaca, dan juga menulis materi.Karena tingkat kepekaan seorang comic,sangat berpengaruh terhadap penerimaan penonton. 

Buku ini bisa mengisi kekosongan pengetahuan kita tentang Stand Up Comedy Indonesia. Sumbanganyang besar arti dan nilainya. Agar tak ada lagi orang yang menganggapbahwa  Stand Up Comedy hanya jadi gerakan atributif saja (bagi orang-orangyang tidak terlalu memahami dinamika dan dialektika panjang gerakan Stand Up Comedy,  seperti saya sebelum membaca buku ini). Yangpenting lucu, tanpa memikirkan dan mencoba tahu sejarah terbentuknya gerakan ini. Hal ini terjadi karena kebanyakan orangtidak mau belajar atau mencoba mencari tahu perjalanan sejarah. Itulah sebabnyabanyak terjadi penafsiran-penafsiran sejarah yang asal-asalan. Begitu jugadengan sejarah Stand Up Comedy.Banyak orang hanya mengerti Stand UpComedy sebagai hiburan, trend, yangkapan saja bisa redup.
Nama-nama,seperti Warkop, Taufik Safalas, Ramon Papana, Indra Yudhisira, Agus Mulyadi,dan Raditya Dika. Adalah orang-orang yang punya kontribusi besar terhadap duniaStand Up Comedy Indonesia.

Viva la Komtung!

Stand Up Comedy Indonesia atau disingkat SUCI, memang baru lahir sekitarsatu setengah tahun lalu, diawali dengan kompetesi SUCI season 1 yangditayangkan di Kompas TV, Namun meskipun begitu, perkembangannya tergolongpesat. Terbukti dengan munculnya cabang-cabang SUCI hampir di setiap kota diIndonesia, termasuk di kota yang saya tinggali sekarang, Jember.
Selain informasilengkap mengenai kemunculan genrebaru dunia komedi Indonesia ini, Pandji juga membahas teori dan istilah-istilahpenting dalam Stand Up Comedy secara lengkap. Seperti, Bit, Set, Set Up, Punchline, Kill, dan Bomb. Ada juga Call back,Rule of 3, Act out, Impersonation, Riffing, One liner, Gimmick, dan Hecklers.
 
Sejak  halaman awal hingga akhir buku ini, kita akanmerasakan perjuangan Pandji dalam menyebarkan “virus’ Stand Up Comedy.Bergerilya dari panggung ke panggung, sampai akhirnya, tepat tanggal 28Desember 2011, Bersama Ernest Prakasa @ernestprakasa, Sammy D Putra @notaslimboy,Rindra @ponakannyaom, Asep Suaji @asepsuaji, dan Luqman Baihaqi @luqmanbhq, danbanyak lagi yang lainnya, Ayah dua anak ini berhasil mencetuskan sebuah acarayang menjadi penanda lahirnya sebuah genre komedi baru di Indonesia. Yang Iaberi nama “Bhinneka Tunggal Tawa”. Dengan ditonton ratusan orang, membuktikanbahwa Stand Up Comedy telah diterima di Indonesia. selanjutnya, di tahun 2012,banyak sekali even-even keren yang tak hanya mampu menghibur, tapi jugamenginspirasi banyak orang. Walaupun baru muncul, SUCI mampu bersaing dengan acara-acara komedi lainnya. 

Semangat yang sama akan kita lihat pada karya-karyanya, terbaca darikomentar-komentarnya yang sering dilontarkan dalam acara televisi, atau melaluikicauannya dalam jejaring sosial. Begitu kuat kecintaan dan kerinduannya terhadap Stand Up Comedy, Sebesarkecintaannya terhadap Negara ini. Sehingga ia mau menghabiskan energinya untukmembedah beragam peristiwa apapun di Negara ini, dengan sudut pandangnya yangberaneka.
Buku ini sangat tepat untuk dijadikan salah satu referensitentang Stand Up Comedy, tentang sejarah dan perkembangannya.Terutama bagi mereka yang mengaku dirinya sebagai seorang Comic, atau penikmat jenis komedi ini.[]

0 komentar:

Posting Komentar