• home
Tentang #SUN2 Jember

Kabar tentang acara Stand Up Nite 2 (Selanjutnya #SUN2) Stand Up Comedy Jember (@StandUpIndo_JBR) saya dapat ketika acara Stand Up Comedy Tour WrongWay 8 Maret lalu. Saat itu, teman-teman komunitas @StandUpIndo_JBR mengumumkan akan ada #SUN2 pada tanggal 19 April 2014, yang akan dimeriahkan oleh Mongol, Muslim, dan Awwe. Saya senang mendengarnya. Keren nih, ada Awwe dan Mongol, batin saya,”. Yang jelas #SUN2 langsung masuk deretan acara wajib tonton.


Seiring berjalannya waktu, teman-teman @StandUpIndo_JBR lalu memberi kami kejutan. Acara #SUN2 diberi varian Pemilihan Comic Lucu (PEMILU) yang dibagi menjadi tiga kandidat Calon Presiden dan Wakil Presiden (Capres dan Cawapres). Dengan pengisi acara, Dono (donooo182) comic asal Surabaya yang juga  pernah tampil di Stand Up Comedy Tour Satu Bangsa Dalam Tawa (#SBDT) Jember, Mongol (mongol_stress) Comic asal Manado yang dikenal sebagai pakar KW, dan Langit (@langitbikull) Comic lokal yang sudah sering mengisi acara di luar Jember. Walaupun ada perubahan, hal itu tak berpengaruh buat saya. Saya memesan lima tiket VIP, dan dua ticket reguler.

 


Meet and Greet

Akhirnya, hari yang ditunggu datang juga. Kami yang memesan tiket VIP mendapat kesempatan untuk mengikuti meet and greet. Beberapa hari sebelumya, saya sempat menyiapkan sebuah handmade untuk mas Dono. Yang kemudian tak jadi saya berikan, karena karya kecil saya remuk, terinjak oleh seorang teman, beberapa saat sebelum berangkat meet and greet. Dan tentu saja, tak ada waktu untuk memperbaikinya. Sedih, dan kesal, iya. Karena saya sudah menyiapkannya jauh-jauh hari.

Hari itu Saya berangkat bersama Dika, seorang teman yang juga penikmat Stand Up Comedy. Tapi nyatanya, pukul 14.40 WIB Radio Cafe masih sepi. Saya lalu mengintip ke dalam. Ternyata disana sudah ada beberapa panitia. Gemilang, salah satunya. Menurut dia, acara baru dimulai pukul 15.00 WIB. Tak apalah, menunggu 20 menit untuk Mongol dan Dono.


Pukul 15.00 WIB, Mongol muncul dengan kaos biru tua, celana kotak-kotak pink-biru selutut, dan sebuah cicin berbentuk bunga. Benar saja, Jeng Mongol (begitu dia minta dipanggil) hehe. langsung menjadi mood buster. Saya tak berhenti ketawa mendengar celotehnya. Saya bahkan sempat ngobrol, dan bertanya tentang bagaimana keseharian seorang Mongol. Sementara Mas Dono tak juga muncul. Entah, saya tak sempat bertanya. Kurang dari satu jam, Mongol terpaksa pergi, karena harus wawancara dengan radio Kiss FM. Acara dilanjutkan dengan tanya-jawab bersama anggota komunitas @StandUpIndo_JBR.
Meet and greet @Radiocafe



#StandUpNite2

18.37 WIB, penonton sudah membludak. Sambil menunggu gate dibuka, saya ngobrol dengan beberapa teman, diantaranya, Dika, Mas Ve, mbak Amel, Iza, Renika, Mbak Novi, dan Elok.

19.00 WIB, gate dibuka. (lewat jadwal seharusnya). Saya yang membeli tiket VIP mendapat kursi paling depan.

19.05 WIB, setelah kursi-kursi terisi, ada voice over yang mengumumkan peraturan-peraturan selama acara berlangsung.

Acara malam itu menjadi semakin spesial dengan adanya upacara tiup lilin, sebagai simbol bertambahnya usia komunitas StandUpIndoJember menjadi dua tahun. Seperti balita yang lagi lucu-lucunya, semoga selalu lucu, dan berkembang.   

 Dirgahayu @StandUpIndo_JBR!!!!



Acaradilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Namun sayang, kurang hikmat dan sedikit berantakan diawal, karena tak ada yang memandu. 

Pukul 19.20, Lampu tiba-tiba dimatikan, berganti spotlight yang memperlihatkan sesosok manusia berjubah hitam. Dengan diiringi sound effect yang keren, perlahan-lahan, jubah itu dibukanya. Dan ternyata, sosok itu adalah Rizky @Rizky_Z Comic Idola saya di StandUpIndoJember. Saya kira, dia akan melakukan pertunjukan teaterikal yang serius. Tapi ternyata, Mahasiswa psikologi yang biasa dipanggil bibir itu memberi kami kejutan dengan tari salsa ala Maria Marsedes. Seperti yang pernah dilakukan @ilhamsyah di #SBDT desember lalu. Tawa dan tepuk tangan penonton pun, segera memenuhi ruangan. Seperti biasa, Rizky menjadi pemandu acara.

@Rizky_Z, MC paling gila yang pernah saya temui



Jas hitam, dasi kupu-kupu, gerak badannya, dan celotehan-celotehannya yang lucu membuat tawa penonton tak henti terdengar. Malam itu, kedua orang tua Rizky juga hadir di tengah-tengah kami. Mereka duduk tepat dibelakang saya. Saya bahkan sempat  bertanya akan kebenaran cerita Rizky tentang keluarga yang sering dibawa melalui materi-materi Stand Upnya.  Misal, tentang kekhawatiran bapaknya, jika Flashdisk tak ditutup, bisa terkena virus. Ketika saya bertanya, Bapaknya pun mengiyakan. Goookiiilll!

#PEMILU

Sekitar pukul 19.30 WIB, sebuah big screen menampilkan video tentang konsep #PEMILU yang diusung oleh teman-teman StandUpIndoJember, yang dilanjutkan dengan perkenalan satu-persatu tiga kandidat Capres dan Cawapresnya. Dengan tepuk tangan penonton yang sudah tak sabar melihat penampilan mereka.

Mereka adalah,.....

Kandidat 1 Roy @bukanroy dan Hamim @muhaemuhae
Kandidat 2 Siro @Siro_gane dan Adit @SAM_Dexel
Kandidat 3 Gagang @gagangramadhan  dan Al @masyalulwan.

Kandidat Capres-Cawapres


Masing-masing kandidat tampil sekitar 10 menit, dengan bit, atau materi-materi ringan dan menghibur. diangkat dari hal-hal yang kecil yang seringkali luput dari pikiran kita. Roy, dengan bit kaos couple bargambar orang kencing, Hamim dengan ekskul sekolah islamnya, Siro, dengan video bokep anggota DPR, Adit dengan buku elektronik, Gagang dengan pisuhan bahasa Inggris, dan Al dengan maling pulpennya. Semuanya lucu, dan layak dipilih. Setelah tampil, mereka-pun turun panggung, sambil menunggu hasil perhitungan suara.

(Malam itu, panitia sengaja membagikan paku dan tiket bergambar wajah masing-masing kandidat Capres dan Cawapres) untuk memilih kandidat paling lucu.
Pukul 20.55, satu dari tiga bintang utama malam itu akhirnya muncul. Tepuk tangan penonton mengiringi langkah laki-laki berwajah kotak itu. Terlebih, kekasih dan Calon Mertuanya turut hadir menyaksikan Ia tampil. Betapa bahagianya Mas Langit malam itu.

Dan seperti biasa, Ia membawakan materi tentang rumahnya yang besar, surat tanah, hingga blue material. Lelaki yang disebut-sebut mirip J-Flow itu benar-benar kampret! Walaupun materinya sudah sering saya dengar, tapi tetap bikin ngakak.

@langitbikull dalam aksinya


Mas Langit sukses memecah tawa penonton. Pembawaannya yang santai membuat penonton semakin senang, dan tertawa bahagia, sampai Ia menyelesaikan keseluruhan set nya.

Lampu kembali redup, berganti spotlight dan riuh tepuk tangan penonton, yang sejak tadi sudah tak sabar menyambut Mahluk Super Keren, dari Surabaya itu.
Siapa lagi kalau bukan, Donoooo!!!!!
Langkah kakinya beriringan dengan senyum yang ia lempar kehadapan penonton. Dengan kaos hitam, jaket, dan celana jeans serta sepatu vans merah, ia terlihat siap menjalankan tugasnya. Tepuk tangan dan teriakan-teriakan segera memenuhi gedung itu. Tentu saja, semuanya berasal dari ratusan kaum hawa. Laki-laki bernama lengkap Adiya Rahman Pradana ini memang digilai banyak perempuan, saya salah satunya. Tampangnya kece. Nicholas Saputra mah, lewat! Hehehe

@donooo182 saat “membius” penonton


Ia memulai shownya dengan bit tentang Ulang tahunnya yang dirayakan bersama ibu-ibu pengajian.  Dilajutkan dengan bit tentang tidak enaknya menjadi anak pertama. Sorakan penonton begitu keras terdengar ketika ia melempar bit tentang prostitusi yang sama sekali tak terdengar rasis. Justru menambah ilmu, dan tetap lucu pastinya. Juga tentang nasib Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang belakangan semakin memprihatinkan. Sungguh lelah rahang dan tenggorokan saya karena materi-materinya. Bahasanya yang nakal, dengan logat  Surabaya yang kental, menjadi ciri khasnya. Sama seperti Mas Langit, dan Setyawan Yogi, comic Samarinda yang juga terkenal “rusuh”. Dan menurut saya, hal itu justru menambah kesan seksi. Entah kenapa, saya semakin suka, ketika Dono mengumpat, Anjing, Djancuk, ataupun yang lain. Tapi malam itu saya merasa Mas Dono sedikit sopan. Tak seperti ketika #SBDT. Yang full kampret materinya. hehe

Beberapa bit terus Ia lempar, dan penonton melahapnya dengan empuk. Tentang kucing, kecoak, ceweknya yang manja, acara TV. Dan terakhir Ia memecahkan tawa dengan bit tentang Si unyil. Dono memberi kejutan dengan mengenakan kopyah, dan sarung ala Unyil.

Dan bit yang paling saya ingat adalah tentang ulang tahun Dono yang dirayakan Ibunya, bersama teman-teman pengajiannya. Juga tentang  Sinetron tendangan Si Madun yang absurd, hingga membuat Jackie Chan jadi Mualaf. Faaakkk, gokiil!!!

@donooo dalam kostum si Unyil


Dan jreeng-jreeenggg...

Dengan lantang, Rizky memanggil comic  yang dikenal sebagai pakar pakar KW itu.

“Kita sambut, ini dia Mongooolll,”!!!!.

Diiringi lagu posesif dari Naif, antusiasme penonton begitu memukau ketika Mongol menaiki panggung.

Tiga tahun menggeluti dunia Stand Up Comedy, materinya tak pernah luput dari cerita-cerita, dan kehidupan kaum homo. Terkadang juga berkaitan dengan agama. Dan malam itu, Mongol membuka shownya dengan bit tentang alat kelamin, dan cerita perjalanan panjangnya dari Jakarta ke Jember.

 “Yang paling ngenes lagi coy, Gue tadi dari Jakarta, naik Pesawat Sriwijaya Air. Nyampe di Malang, Gue tanya, perjalanan berapa jam nih? Ah, paling dua jam an lebih bang, katanya. Trnyata empat jam.  Lu bayangin, Gue dari Jakarta masuk Kristen, nyampe disini gua jadi Muslim. Coy, Gue dari Jakarta ke Malang baca Alkitab. Ya ampun dari Malang ampe kesini, Gue pinjem AlQuran. Lama! Katanya. 

Aaakkk cucok kali Om @mongol_stress satu ini. 


Seketika saya dan penonton lainnya tak bisa berhenti tertawa. Setelah itu dilanjutkan dengan bit tentang buang air besar di pesawat, mengalir ke bit tentang agama, koteka, nyamuk Muslim Papua, hingga khotbah pendeta alay di penjara Cipinang. Dan semuanya pecah!

Mongol bahkan sempat  meriffing beberapa penonton laki-laki, dengan mengajak mereka ke panggung, untuk di test kejantanan. Rahang saya pegal, karena terlalu banyak tertawa.

Sekitar pukul 22. 55, seluruh pengisi acara #SUN2 naik keatas panggung. Untuk ikut menjadi saksi pemenang kandidat Capres-Cawapres. Dan ternyata Kandidat No 3 lah yang paling berhasil merebut hati penonton. Terbukti dengan tingginya presentase suara yang mereka dapatkan dari hasil pencoblosan.

Selamat GAGANG dan AL!!! J
Acara berlanjut dengan pengundian doorprize berhadiah sepatu, jam tangan, dan kaos dari Kikik The Branded @KTB_ID.  Dan tanpa disangka, saya menjadi salahsatu orang yang beruntung, mendapat kaos Nike berwarna biru. Namun sayang tak bisa saya pakai sendiri, karena ukurannya yang sangat besar.  Dan yang paling penting dan tak terlupakan adalah, ketika Mas Dono memegang tangan saya,  membawa saya keliling panggung, lalu dibawa turun lagi. Walaupun sempat dikerjain, tak apalah, yang penting tangan saya diandeng Mas Dono. Hehee Malam itu saya benar-benar bahagia, melepas segala macam kepenatan bersama mereka.

Ucapan terimakasih, dari para penampil, disambut tepuk tangan heboh, dari kami.

Terimakasih Stand Up Indo Jember, untuk acaranya yang begitu menyenangkan

Apa yang membuat kita bermimpi? ketika tak henti jam dinding berdetak. “You may say, I am a dreamer,” kata John Lennon. Tidak untuk menaklukkan dunia, tapi cukup bagian kecil saja. Setidaknya saya ikut berbahagia melihat mimpi dari dari teman-teman Stand Up Indo Jember sedikit-demi sedikit mulai terwujud.

Dan apa yg telah telah teman-teman Stand Up Indo Jember lakukan, sungguh sebuah class action yg tidak bisa di pandang sebelah mata. Semoga selalu Semangat diantara mereka yg terlelap.

Setelah John Lennon siapa lagi?

kental sekali batok kepala ini menggerayang.

menurut catatan saya, yang perlu diperbaiki malam itu hanya pada waktu yang sedikit molor, serta (mungkin) kurangnya kordinasi antar panitia, sehingga terjadi kesalahan saat pengumpulan kertas suara. 

VIVA LA KOMTUNG!!!

Dan ini dia foto-foto Keren malam itu.

Abang @donooo182, Mahluk tuhan paling keceh, lucu, dan tampan!









Om @mongol_stress, sang pakar KW Internasional J


@Rizky_Z, Comic Idola yang absurd dan sepertinya punya gangguan jiwa 


@Siro_gane si Capres gagal. (Semoga nggak depresi). hehehehe




@muhaemuhae, Adeknya Fandi Bakri J



@bukanroy, tapi Roy???


Cerita lain, tentang Si Putri dan Si Fulan

Cerita Fiktif yang diilhami lagu Iwan Fals berjudul si Putri dan si Fulan. Juga berdasarkan beberapa data dari buku, Internet, dan sumber lain, tentang Sejarah kelam,”Tragedi Jakarta 1998”.
Penggalan lirik Si Putri dan Si Fulan

Ini kisah cinta demonstran
Si putri dan si fulan jumpa di depan istana
Terkadang di gerbang DPR
Istana dan DPR tempat mereka pacaran

Sehabis demo kecapean
Tenggorokan kering perut keroncongan
Es kelapa muda sepiring ketoprak
Mata saling memandang
Akhirnya jadian, bukan jadi-jadian

Si putri dan si fulan
Menuntut harga diturunkan
Si putri dan si fulan
Butuh presiden yang negarawan

Si putri dan si fulan
Tak punya ambisi politik apalagi jadi pejabat
Yang dia inginkan negeri ini seperti apa yang diajarkan 
dosen-dosennya
 Jakarta, Mei 1998
Akhir-akhir ini, kondisi negara sedang tidak stabil. Rezim Soeharto sedang goyah. Inflasi yang merupakan imbas krisis di wilayah Asia membuat masyarakat mengalami krisis multidimensi. Sementara itu, sebagian pemilik modal telah kabur ke luar negeri, tanpa ada tanggung jawab.  Elite politik, militer, semuanya berantakan, dan saling menjatuhkan.
Sementara, perempuan bernama Putri itu tiba-tiba berteriak histeris, begitu melihat sesosok  laki-laki tengah terbaring tak berdaya, dengan darah membasahi almamater birunya. Mata lelaki itu bertemu dengan matanya. Membuat kepalanya berputar, telinganya berdenging mendengar suara tembakan dan teriakan yang saling bersahutan. Putri takut, kalau  Ia takkan lagi bisa bertemu dengan lelaki itu, untuk waktu yang sangat lama.
Akhir dari sebuah awal...
10 Agustus 2002
Putri melemparkan pandangan ke luar jendela, menatap barisan pohon yang basah karena hujan.    Jam diding sudah ada di angka 23:30, namun kantuk belum juga singgah. Ia lalu membuka-buka kembali buku hariannya, memandangi selembar kertas bergambar sketsa wajah, pemberian seorang lelaki yang pernah begitu dicintainya. Sengaja Ia menyimpan kertas usang itu. Setidaknya sebagai pengingat, bahwa lelaki itu pernah ada, bahwa lelaki itu pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Putri mencoba mengingat pertemuannya pertama kali, dengan lelaki bermata teduh itu. Di sebuah warung di seberang gedung DPR-RI.  Saat keduanya sama-sama kelalahan selepas demo. Dan sejak saat itu, Putri merasa ada yang berbeda. Ia tenggelam di bola mata makhluk bernama Fulan itu. Mata yang  teduh, sekaligus menghanyutkan.
***
10 Oktober 1997
Putri bertemu dengannya lagi, ketika langit malam sedang penuh bintang. Tentu saja karena tak sengaja. Kali itu Fulan yang menyapa dan menghampirinya. Mereka lalu hanyut dalam obrolan panjang tentang apa saja. Putri dan Fulan-pun kerap jalan bersama. Diskusi, makan, dan entah apa lagi. Dua manusia dengan Ideologi yang sama. Idealisme yang sama.
***
11 Januari 1998
Putri semakin tak paham dengan perhatian Fulan. Suatu waktu, lelaki itu menjadi malaikat, tapi di waktu yang lain, Ia berubah menjadi iblis. Hari itu misalnya, Fulan berkirim pesan pada seorang teman, jika Ia ingin bertemu Putri di kantin Sastra.
Baru saja Putri menginjakkan kakinya di kantin, Fulan sudah berdiri di hadapannya.
Nih, katanya sambil menyodorkan selembar kertas terlipat.
Putri tersenyum tipis melihat betapa tidak rapinya lipatan-lipatan kertas itu.
Selanjutnya mata Putri melebar begitu lipatan-lipatan itu terbuka sempurna. Ia melihat sebuah wajah yang sedang tersenyum di atas kertas. Wajah yang polos dan manis. Putri tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Gambar yang indah dan bagus. Dan itu adalah gambar dirinya.
“Bagus?,”
Putri hanya mengangguk, dan menggigit bibir, menatap kertas bergambar itu lagi. Ia lantas memberanikan diri menatap mata laki-laki di depannya, tepat ketika Fulan juga sedang manatapnya. Ia merasakan degup jantung yang sedari tadi berdegup lebih kencang dari biasanya.
***
Sekitar April 1998, entah tanggal berapa
Hari itu Putri bangun terlalu siang. Tubuh perempuan itu lelah yang luar biasa, karena beberapa hari terakhir, jam tidurnya berantakan. Ia lebih sering berada di warung kopi. Diskusi terkait persiapan aksi besar-besaran yang akan dilakukan bersama kawan-kawan Mahasiswa. Bagaimanapun, saat ini Ia memiliki kedudukan penting, sebagai anggota Senat Fakultas Sastra.
Ia kemudian bangkit dan berdiri di depan cermin. Mematut wajahnya yang semakin kusam.
“Mungkin ini juga yang membuat Fulan tak kunjung mengatakan perasaannya padaku. Karena aku tidak cantik,” katanya sambil tersenyum.
Putri menghirup napas dalam. Teringat gurauan sahabat-sahabatnya, yang mengatakan bahwa Fulan menyukainya. Tapi nyatanya, walau mereka kerap bertemu, Fulan tak menunjukkan sikap apapun padanya. Maka Putri hanya akan menunggu, entah sampai kapan?.
***
02 Mei 1998
Penolakan terhadap Rezim Soeharto semakin merajalela. Selain inflasi sejak pertengahan tahun 1997, pertumbuhan Ekonomi yang tidak merata juga membuat rakyat kebakaran jenggot. Sementara itu, tak ada upaya dari Soeharto untuk mengembalikan semuanya menjadi normal. Ia hanya berusaha keras, bagaimana mengembalikan saham, agar tak terjerat hukum. Namun kini, Rakyat Indonesia tak lagi bisa di bohongi, dan di belenggu. Revolusi harus terjadi. Soeharto harus turun!.
Demonstrasi terjadi dimana-mana, Mahasiswa sibuk melakukan aksi-aksi dan mimbar bebas di daerah masing-masing. Selain menuntut turunnya Soharto, Mahasiswa juga mendesak pemerintah agar segera membubarkan Depatemen Penerangan yang saat itu ditugaskan untuk menyensor pemberitaan Media.
***
11 Mei 1998
Putri berjalan gontai ke arah sekeritariat Senat Universitas Atmajaya.
“Assalamualaikum...” sapanya.
Beberapa Anggota Senat tampak berbincang serius.
“Waalaikum salam,,,  jawab Kalsita yang sedang menyiapkan press release. Eh, Putri. Masuk,”
Tanpa menunggu lama, Putri mendekati beberapa kawan mahasiswa yang ada di ruangan itu. “Aksi  damai kan?,”
Beberapa dari mereka mengangguk. “Ya, hanya mimbar bebas,”.
Semua yang ada di ruangan itu tampak lelah. Mengingat sudah sejak lama mereka mempersiapkan aksi ini, bahkan sejak sidang Umum MPR-RI tanggal 11 Maret lalu.
Putri teringat Fulan yang sudah sebulan tak memberinya kabar. Dan Ia merindukannya. Tapi cepat-cepat Putri menepisnya. Fulan ternyata tak benar-benar ada untuknya.
***
12 MEI 1998
Sekitar pukul 10.30-45 di daerah Sudirman.
Aksi mimbar bebas dimulai, diawali pengibaran bendera setengah tiang dan mengheningkan cipta, sebagai keperihatinan terhadap musibah yang menimpa bangsa Indonesia. Dilanjutkan dengan orasi oleh beberapa dosen dan mahasiswa.
Tapat pukul dua belas siang, massa bergerak menuju gedung DPR-MPR RI melewati Universitas Tarumanegara. Bergabung dengan massa dari Trisakti.
TURUNKAN SOEHARTO!!!
TURUNKAN SOEHARTO!!!
***
Yel-yel pergerakanpun, terus dikumandangkan. Membuat Putri dan  ribuan demonstran lainnya bergairah, meski awan terlihat keabuan.

SUMPAH MAHASISWA INDONESIA
KAMI MAHASISWA INDONESIA BERSUMPAH
BERTANAH AIR SATU TANAH AIR TANPA PENINDASAN 

KAMI MAHASISWA INDONESIA BERSUMPAH
BERBANGSA SATU BANGSA YANG GANDRUNG AKAN KEADILAN 

KAMI MAHASISWA INDONESIA BERSUMPAH
BERBAHASA SATU BAHASA TANPA KEBOHONGAN

Hidup MAHASISWA !!! 
Hidup RAKYAT !!! 
Putri bergidik mendengarnya. Fulan, lelaki yang dirindukannya, sedang berdiri depannya. Namun belum sempat Ia menatap lekat lelaki itu, dibelakangnya terjadi keributan. Mahasiswa bentrok dengan aparat Yang saat itu dikomandoi oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
***
Saat seorang mahasiswa mambacakan orasi, tiba-tiba, seorang laki-laki tak dikenal meneriaki barisan massa dengan kata-kata kotor, dan berlari ke arah aparat. Massa yang tersulut emosi, mengejar orang tak dikenal itu ke arah yang sama, sehingga membuat barisan aparat gusar. Namun akhirnya massa bisa kembali di kondisikan, karena belakangan diketahui, bahwa orang tersebut itu adalah salah satu oknum yang memang berniat menjadi provokator.
Sayangnya, saat mahasiswa mulai mundur teratur, barisan aparat justru menyulut lagi emosi yang sudah teredam itu.
Cuaca semakin mendung. Sebagian Mahasiswa menyelamatkan diri ke kampus Trisakti yang tak jauh dari gedung DPR-MPR-RI. Namun aparat tetap mengejar massa hingga ke dalam kampus. Mahasiswa juga mengalami pemukulan, tendangan, dan kekerasan lain. Aksi yang rencananya dibuat damai sekarang sudah tidak lagi. Justru kengerian yang ada. Sebagian dari kawan-kawan Mahasiswa di tangkap dan dianiaya tanpa ampun. Hingga berjatuhan dan tergeletak di jalan..
Dan tanpa bisa dihindari, empat mahasiswa Trisakti tertembak hari itu.
“Hafidin Royan, Heri, Hendriawan Sie, dan Elang Mulya Lesmana”
Beberapa hari berikutnya, tragedi Trisakti memicu gelombang kerusuhan yang lebih besar. Menewaskan ratusan orang, serta ratusan korban pelecehan seksual.
***
21 Mei 1998
Sekitar pukul sepuluh pagi, setelah gagal mendapat dukungan Ulama dan Tokoh Masyarakat, serta pemunduran diri 14 menterinya, Soeharto menyatakan berhenti dari jabatan kepresidenan, digantikan wakilnya, BJ Habibie.  Pada awalnya, semua orang bersuka cita menjadi saksi runtuhnya rezim Orde Baru. Ini menggugurkan mitos dirinya sebaga tonggak stabilitas Nasional. Namun akhirnya, Masyarakat kembali sadar, bahwa kroni Orde Baru masih berkuasa. Dan Habibie adalah bagian darinya. Mahasiswa beranggapan, bahwa reformasi justru jauh dari harapan.
Oktober 1998
Ketegangan kembali memuncak menjelang sidang Istimewa MPR yang sekaligus menyelenggarakan  Pemilihan Umum. Tapi Masyarakat menolaknya, karena peserta sidang masih berasal dari kroni-kroni Soeharto. Mahasiswa menuntut persidangan dengan perwakilan terpercaya.
13 November 1998
Tuntutan Masyarakat dan Mahasiawa tidak dipenuhi. Pemerintah tetap menggelar persidangan. Yang akhirnya, selama Sidang berlangsung, ribuan Mahasiswa turun ke jalan. Dan pada malam menjelang penutupan Sidang, terjadi penembakan di jembatan Semanggi. Dalam peristiwa yang lebih berdarah dari tragedi Trisakti, aparat menembakkan peluru hampa, peluru karet, bahkan peluru tajam ke arah kerimunan demonstran. Saat malam semakin larut, tembakan semakin menderas, dan korban semakin berjatuhan.
Aparat keamanan memasuki kancah pertempuran dengan lagu-lagu mars, dan sorak sorai menggema. Bagi ABRI, pertempuran Semanggi adalah kemenangan yang membanggakan bagi Negara tercinta. Setiap korban Mahasiswa yang jatuh, meningkatkan semnagat juang pasukan.
13 November menjelang malam
Putri masih sempat mengambil beberapa gambar, saat Ia mendengar lagi suara “DOR!!!” beberapa meter dibelakangnya, bersamaan dengan teriakan, “Fulan tertembak,”.
Sambil menangis, Ia berlari kearah tubuh itu. Pandangannya nanar, kakinya gemetar, melihat tubuh itu terkapar.
***
Usai dibersihkan lukanya, tiba-tiba, Fulan bangun dan mencengkeram lengan perempuan yang duduk di sampingnya.
“Putri!, Saya minta maaf,” katanya sambil menatap perempuan yang diam-diam dicintainya.
Putri tercekat menatap Fulan kembali. Lalu mengedarkan pendangan ke seliling. Sekali lagi, mata lelaki itu mengenyahkan rasa sakit dan lelahnya. Putri  lalu mengusap air mata, dan menarik napas dalam-dalam.
“Aku juga minta maaf,” tuturnya lirih.
“Berhentilah menangis.!, di luar sana banyak yang butuh bantuan kamu. kamu harus kuat, kita hadapi ini sama-sama. sekarang kamu pergi, kawan-kawan yang lain, tapi jangan lupa kembali,” katanya, sambil melepaskan genggaman.
Baik, aku pergi dulu, aku akan kembali secepatnya,” mata lelaki itu meredup. lalu mengangguk sedikit.
“Saya cinta kamu,” katanya sebelum Putri benar-benar pergi. Putri tersenyum, dan pura-pura tak mendengar. Ia takut, Fulan hanya bergurau.
***
Baru saja Putri akan memulai merawat para korban, Ilham datang dengan wajah lesu. Sambil berbisik, “Fulan meninggal Put”, katanya.
Napas Putri tiba-tiba terasa sesak, lututnya lemas. Jantungnya mengalami percepatan gila-gilaan, Ia menangis diantara keributan disekitarnya. Pandangannya kabur, dan ahirnya jatuh terduduk karena lututnya tak lagi kuat menopang berat tubuhnya.
Putri bersikeras  menajamkan pandangannya. Melihat sesosok tubuh yang terlihat semakin jauh. Tubuh yang semakin terlihat sepi, dan beku. Selanjutnya Putri merasa semuanya menjadi hitam.

Putri masih ingin sendiri. Ia bahkan tak ikut ketika sahabat-sahabat mangantar Fulan, ke tempat tidur abadinya.  Ia hanya ingin menenangkan diri,  sambil mengenang lelaki itu sebagai Fulan yang angkuh, Fulan  yang manis, dan Fulan yang menyebalkan.
Putri bersyukur, perjuanganya bersama kawan-kawan yang lain tak sia-sia. Tapi Fulan? benarkah cerita tentangnya tak akan dikenang? Dan benarkah kabar kematiannya hanya akan menjadi berita selingan sebagai korban demonstrasi? Benarkah orang-orang hanya akan mengatakan prihatin dan melanjutkan sarapan mereka ketika melihat berita kematiannya ada di koran atau televisi? Entah!
Hingga pertengahan desember 1998, kerusuhan terus terjadi. Ratusan warga sipil dan aktivis  hilang, bahkan tewas. Yang hingga kini, kasusnya tak terselesaikan secara hukum.
Akhir yang sebenarnya,,,
15 Mei 2001
Putri menatap gundukan tanah di depannya. Tiga tahun berlalu sejak kejadian itu, sahabat-sahabat yang pernah menjadi saksi kehidupannya, kini sudah melanjutkan hidup masing-masing.
 “Put,”
Putri menoleh, mendapati Gilang, dan beberapa sahabatnya yang lain, membawa karangan bunga untuk pusara Fulan.
Mereka lalu saling diam, sibuk dengan doa masing-masing. Putri percaya, bahwa Fulan tak pernah benar-benar pergi, dia akan terus melihatnya tumbuh dan berproses menjadi Manusia seutuhnya. Putri berjanji, untuk hidup lebih baik, untuk bagian Fulan juga.
Putri menatap lelaki punggung lelaki di hadapnannya. Ia sadar, bahwa Ia harus beranjak dari masa lalu. Dan kini Ia bertekad memulai kembali semuanya. Ia ingin menulis ceritanya di lembar yang baru.
Di akan memulai dengan kata “Cinta”, “Fulan”, dan diakhiri dengan “Gilang”, bahagia selamanya.”[]
Selesai,,,