• home

Untuk Prof. Ayu Sutarto



#Sekedar oleh-oleh dari Tasyakuran Kreatif

Setelah kelar menulis tentang Stand Up Comedy show #SatuBangsaDalam Tawa Jember kemarin, saya harus memaksakan diri dan otak saya untuk kembali membuat catatan tentang acara Peluncuran Karya terbaru Prof. Ayu Sutarto yang diberi judul “Tasyakuran Kreatif”, 64 tahun Prof. Ayu Sutarto. M.A.
Bertepatan dengan Ulang Tahunnya yang ke 64 itu, Prof Ayu, begitu beliau biasa disebut, kembali menelurkan 2 buah karya yang berjudul, Disini Aku mencari tuhan, disana, engkau berburu kerinduan, dan yang kedua adalah Hati yang menyapa (Dari renungan ke renungan). Acara tersebut diselenggarakan di Aula Fakultas Sastra Universitas Jember, pada hari Kamis, 19 Desember 2013. Sekilas, tak ada yang spesial dengan acara ini. Karena saya sudah beberapa kali menghadiri peluncuran buku dari lelaki yang baru saja menerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2013 kategori Pelestari dan Pengembang Warisan Kebudayaan Indonesia itu. Namun, d.\i tengah acara saya baru tahu bahwa buku barunya ini merupakan catatan perjalanan, yang beliau tulis selama berkeliling  ke banyak Negara. Hari itu Prof. Ayu tampil santai dengan baju koko berwarna putih. Sesaat beliau mengaku speechless melihat ruangan yang yang dipenuhi orang-orang yang mencintai, da menghargai karya-karyanya.

Dibuka oleh Icha, MC cantik dari Sastra Inggris, yang katanya baru saja mengalami kecelakaan. Namun demi Prof Ayu, Icha rela menahan sakitnya.

Hiburan pertama diisi oleh Nia dan Galang. Yang membawakan tarian khas Banyuwangi, Jaran Goyang, dimana tarian itu yang mengisahkan tentang seorang lelaki yang menggunakan pelet jaran goyang untuk memikat lawan jenisnya. Jaran goyang sendiri dipercaya oleh Masyarakat Banyuwangi sebagai pelet paling ampuh untuk menaklukkan hati seseorang.

Hiburan kedua adalah tarian holaahoop dan tari egrang dari "Untukmu si kecil pinggir kali bedadung" yang merupakan anak-anak asuh dari Prof. Ayu.
Selepas penampilan tari anak-anak kecil yang lucu itu, acara dilanjut dengan sambutan-sambutan. Sambutan pertama dari Mas Arif Nur Hartanto, Mahasiswa Sastra Inggris 2010 yang hari itu bertindak sebagai Ketua Panitia. Dan sebelum Arif mengakhiri sambutannya, Ia mempersembahkan sebuah tembang Jawa untuk Prof. Ayu, yang sama sekali tak saya pahami artinya. *maklum, saya Madura asli. : D

Dan pengisi acara ketiga adalah Abdul Gani, Mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2008, yang membawakan sebuah puisi berjudul, "Surat Selamat Jalan" Seketika Saya, dan mungkin juga penonton yang lain dibuat hanyut dengan isi puisinya. Sayatan dawai biola yang mengiringi puisi ini memperindahnya. Sebelum puisi dibacakan, Mas Gani, begitu saya memanggilnya, mengatakan bahwa Puisi yang dibuat tanggal 9 Mei 2013 tersebut menceritakan tentang seorang Istri yang ditinggal Suaminya merantau, tapi kemudian, Sang Suami meninggal di perantauan. Saya larut, dan akhirnya menangis. Iya, saya lebay dan cengang. 

Selesai penampilan puisi dari Mas Gani, disambung lagi dengan sepenggal puisi cinta yang dibawakan oleh Prof. Ayu untuk Ibunya. Setelah  itu, Prof. Ayu membawa kami pada cerita masa lalunya. Yang beliau bahkan tak dapat mendatangkan sang Ibu di Wisuda S1 nya karena permasalahan Ekonomi. Prof. Ayu tak lantas menjadi seperti sekarang ini. Perjuangan beliau begitu berat dan berarti, hingga kini menjadi Guru Besar yang kerap dianugerahi banyak penghargaan di bidang Sastra dan Budaya. Cerita Pof. Ayu tentang Ibunya kembali mebuat haru satu ruangan. 

Dua kata untuk menggambarkan Prof. Ayu: Ringan dan Santai. Gayanya yang santai, serta puisi-puisi yang gampang dicerna. Namun ada hal lain yang membuat saya selalu kagum pada Lelaki kelahiran Pacitan ini, kesederhanaan dan keramahan beliau.

Suasana baru kembali ceria ketika Icha membagikan doorprize untuk teman-teman yang beruntung. dan saya termasuk yang beruntung hari itu. karena mendapat tas kecil, oleh-oleh Prof. Ayu dari Martapura Kalimantan Kaimantan.

NB: Tak ada satupun momen yang bisa saya abadikan, karena Handphone saya tertinggal. Mohon maaf atas itu.

Stand Up Comedy, dan hal keren lainnya!

13 July 2013 at 14:55

Hampir sebulan break menulis,kali ini saya akan membahas tentang sebuah jenis komedi yang belakangan jadi trending topic di mana-mana. Sering kali kita menyaksikan, membaca,atau mengalami hal-hal lucu di sekitar kita. Beberapa stasiun Televisi swastapun, sedang gencar menayangkan berbagai acara yang berbau komedi. Mulai dari OVJ, Facbooker, Tahan tawa, dan YKS. Tapi yang paling keren adalah Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) yang ditayangkan di Kompas dan METRO TV. Walau usianya masih sangatmuda, perkembangan SUCI tergolong pesat. Terbukti dengan munculnyacabang-cabang SUCI hampir di setiap kota di Indonesia, termasuk Jember.

Stand Up Comedy atau juga Komedi Tunggal (KomTung) sendiri merupakan sebuah seni, dimana seorang komedian yang biasanya disebut comic, berdiri menyampaikan lelucon melalui monolog. Lelucon yang disampaikan umumnya tentang fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar masyarakat. Atau, keresahan-keresahan yang dilihat para comic tentang realita sosial, namun dikemas menjadi sesuatu yang cerdasdan tidak biasa. Tahun 2012 menjadi tahun yang sangat bersejarah bagi Stand UpComedy Indonesia. Di tahun itu, SUCI menghasilkan banyak sekali show-show dan acara-acara keren yang tak hanya mampu menghibur, tapi juga menginspirasi banyak orang.Walaupun  baru muncul, SUCI mampu bersaing dengan acara-acara komedi lainnya.

Selain itu, dalam sebuah wawancara yang saya kutip di media online, comic Gilang Bhaskara mengatakan, SUCI biasanya hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang berpandangan terbuka dan luas. Karena materi yang diba wamemang sarat dengan kritik-kritik tajam. Dan tentu akan ada tokoh ataupihak-pihak yang di serang oleh para komik. Misalnya, saat Ia sendiri pernah menyinggung soal pencalonan Farhat Abbas dalam bursa pemilihan Presiden 2014-2019, Dia mengatakan, “jangankan di sini, walaupun Farhat Abbas itu nyalonPresiden di Bikini Buttom, doi gakbakal menang! Patrick dan Sponge Bob gak sebodoh itu buat milih doi,” katanya dalam postingan twitternya. Namun sampai saat ini, belum ada kasus atau pelaporan mengenai hal itu. Kalaupun ada yang tersinggung, berarti dia belum pantas untuk menjadi penikmat Stand Up Comedy. Dan itu nyata. Katanya lagi.

Dalam tulisan ini, saya juga akan membahas tentang dua comic favorit saya, Ge Pamungkas, dan Gilang Bhaskara, selain berwajah tampan, keduanya sama-sama tercatat sebagai Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Parahyangan Bandung. Bedanya, Ge angkatan 2006, sedangkan Gilang angkatan2007. Dan dua-duanya belum lulus, hehe.Ge yang juara dua SUCI season 2 ini terkenal dengan gayanya yang enerjik, dengan penyampaian yang nge pop, dan bahasa tubuhyang selalu dapat membuat penonton kagum. Sedangkan Gilang, dikenal sebagai comic cerdas, dan senang membawa tema-tema yang remeh, menjadi layak dibicarakan. Tema-tema yang pernah diangkat lelaki berkacamata ini diantaranya, tentang fenomena alay, Dora, sebagai acara anak-anak yang tidak mendidik, dan tentang pengalamannya ketika di rumah sakit. Gilang bercerita, suatu hari dia periksa, dan ketika mendaftar ke salah seorang perawat, si perawat tersebut menuliskan namanya, dengan Gilang Baskara, yang seharusnya, ditulis Bhaskara. Nah, ketika Gilang mencoba menegur dengan kalimat,

"mbak, Gilang Bhaskara pake BH". 

 Si suster bingung. Padahal yang Gilang maksud Bhaskaranya yang BH. Terlepas daribenar tidaknya cerita itu, lewat bahasanya yang enak didengar, malam itu sirambut kriwil ini telah membuat seluruh penonton terawa terpingkal-pingkal. Namun,ada satu yang paling saya suka, yaitu ketika lelaki berambut kriwil ini membahas tentang "Program mobil ramah lingkungan.

 “Kalian tahu, definisi Mobil ramah lingkungan menurut Pemerintah, yaitu yang cc nya kecil. Emang, kalau cc nya kecil, Bahan Bakarnya air embun?” 

Katanya dengan gaya yang santai, namun sangat masuk pesannya. beberapakali melihatnya tampil, benar-benar membuat saya jatuh cinta. Gaya bicaranya,cukup menggambarkan bahwa Gilang memang orang yang berwawasan luas, dan selalu bisa menguak sisi lain dari kebodohan yang sering dilakukan orang Indonesia. Materi yang dibawa juga selalu disertai dengan hipotesa-hipotesa matang, tanpa meninggalkan unsur lucu.

Dalam akun twitternya yang bernama @Gilbhas itu, Gilang pernah bertuturtentang cita-citanya untuk membuat SUCI bisa dicintai banyak orang, namunjangan terlalu komersil, agar tak keluar jalur. Karena Ia khawatir, esensi SUCIyang sarat kritik akan luntur. Selain Gilang, dan Ge, ada beberapa comic yang disebut-sebut sebagai “nyawa”dari SUCI sendiri. Seperti Raditya Dika, Ryan Adriandi, Pandji Pragiwaksono, SammyNotaslimboy, Ernest Prakasa, serta Soleh Solihun. Video-video lucu mereka yangdi upload di You tube telah ditonton oleh jutaan orang. Hal ini semakinmempertegas bahwa SUCI telah diterima oleh orang Indonesia. Walaupun hanya sebagian. Dan beberapa bulan lalu, comic Kemal, juara tiga SUCI 2 dan Ge Pamungkasjuara satu SUCI 2, sempat mampir di Jember. Kemal lewat Absurd tour, dan Ge lewat 3GP tournya.
Kembali lagi ke comic Gilang, dalamsebuah wawancara dengan media, di juga mengatakan, penikmat Stand Up Comedy harus orang-orang yang mudah tersinggung. “Kalau misalnya kita nyinggung orangyang suka naik mobil pribadi, kita justru juga harus ngindarin itu. Jadi gak cuma ngingetin orang, tapi juga diri sendiri,”. Katanya serius.

Oia, selain SUCI, ada juga acara komedy bernama Indonesia Harus Bercanda.Sebuah komedi situasi yang menggambarkan kehidupan manusia Indonesia yang diperankan oleh comic-comic yang saya sebutkan tadi. Dalam salah satu episode yang berjudul, “gerah ngurusi calon lurah”, yang diperankan Mpok Nori, digambarkan, Mpok Nori yang tidak bisa baca-tulis, ngotot ingin jadi Lurah, dengan mengandalkan harta yang Ia miliki. Jelas ini merupakan penggambaran tentang maraknya orang yang ingin jadi caleg, tapi tak mau tahu tentang kemampuan dirinya. Hal itu memang banyak terjadi di Negara kita. Indonesia Harus Bercanda merupakan proyek di buat oleh Pandji, yang memang ditujukan untuk menggambarkan relita yang terjadi. Sekalilagi, dengan cara yang tidak murahan. Perlu diketahui juga, bahwa komunitas in itidak dibentuk sembarangan. Tapi dibentuk secara teratur, serta mempunyai visi-misi,dan struktur organisasi yang jelas. Dan satu lagi, tidak semua orang bisamenjadi comic. Karena seorang comic harus sering berlatih, belajar analisis sosial, dan rajin membaca. Karenatingkat intelektual seorang comic,sangat berpengaruh terhadap penerimaan penonton yang kebanyakan terdiri dari Mahasiswa. Berbeda dengan acara komedi lain yang gak jelas maksudnya.

Semoga kehadiran Stand Up Comedy Indonesia menjadi langkah yang tepat untukpenyegaran dunia komedi Indonesia. dan menurut saya, Stand Up Comedy juga merupakan bentuk lain dari gerakan positif yang dapat merumuskan cara untuk memberantas berbagai virus alay yang sedang merajalela di Indonesia.

Viva La Komtung![]

Saya, dan cerita tiga buku Pandji


NASIONAL.IS.ME, MERDEKA DALAMBERCANDA, dan BERANI MENGUBAH saya beli dalam waktudan tempat yang berbeda. Buku pertama yang saya baca justru BERANI MENGUBAH, lalu, MERDEKA DALAM BECANDA, dan yangterakhir NASIONAL.IS.ME. Namun, sayaakan memulai pembahasan dengan buku NASIONAL.IS.ME.



NASIONAL.IS.ME

Membaca buku ini, kita akan mendapat banyak pencerahantentang konsep Nasionalisme dan ke-Indonesiaan secara sistematis. Pandjimenekankan, bahwa kita tak seharusnya membenci sesuatu yang tak kita kenal dantak kita pahami. Bagian ini cukup menggelitik saya, yang sering berkoar-koartentang kebobrokan Indonesia. Pemerintahnya yang beginilah, dunia perfilmannyayang begitulah, orang-orangnya yang noraklah, dan banyak lagi. Padahal, sayabelum sepenuhnya mengenal, seperti apa sebenarnya Indonesia. Saya tinggal di Madura, maka Indonesia versi Maduralah yang saya kenal sejaklahir hingga sekarang. Benar yang Pandji katakan dalam dihalaman 88 buku ini, bahwa begitu banyakhal-hal baik yang terjadi di Negara ini, namun Media tak banyakmemberitakannya.

Dari diskriminasihingga harmonisasi
Kata-kata diatas mungkintepat untuk menggambarkan kehidupan Pandji saat itu. Pandji yang lahirdari keluarga kaya dan biasa denganlingkungan yang mewah, merasa sangat kaget ketika dia harus sekolah diSMP Negeri yangsiswa-siswanya bandel, dan banyak tukang palaknya. Membuat Pandji kecil harusberhadapan dengan hal2 buruk setiap hari. Namun, yang paling membuatnya shock dimasa itu adalah perceraian orangtuanya. Yang memaksa dia harus menerima kenyataan, pindah dari rumah yang mewah di Simprung, ke sebuah rumahsempit di Bintaro. Belum lagidia harus menerima kenyataan, disisihkan oleh teman-teman sekolahnya, hanyakarena sepatu yang dipakai bermain basket, bukan sepatu Air Jordan atau AirMax. Hal ini sempat membuat mentalnya terpuruk. Ditambah lagi Pandjibermain buruk di timnya. Pandji lalu memilih menjauh dari lingkunganyang disebut anak-anak mampu itu, dan bergabung dengan geng,yang terkatakan anak-anak “kurangmampu”.
Dan saat itu jugalah suami dari Gamila Arif ini mengenal makna dari kata “miskin”. Ketikadia mengunjungi rumah beberapa teman yang nasibnya lebih buruk darinya. Keadaanitu membuka mata Pandji. Bahwa masih banyak orang yang jauh “serba kekurangan”dibanding dirinya. Masa SMP adalah masa dimana untuk pertama kalinya Pandjibelajar tentang makna hidup secara lengkap.
Lepas SMP, Pandjimendaftar di beberapa sekolah favorit di Jakarta, SMA 82, SMA 6, dan SMA 70.Nmaun karena NEMnya tidak cukup, Ia gagal diterima di tiga sekolah itu. Sampai akhirnya, pilihan jatuh pada SMAKatolik Gonzaga. Sekolah yang benar-benar menawarkan carapandang baru bagi Pandji. Sekolahini memperbolehkan siswa-siswanya untuk tidak pakai seragam. Bahkan saat itu SMA Gonzaga sudahmembiasakan siswanya memakai batik setiap hari senin dan selasa. Tentu saja,jauh sebelum Indonesia “mengenal” batik. Memang di sekolah itu akan terlihat,mana anak orang kaya, dan mana anak orang miskin? Namun justru dari situlah siswa-siswa SMA Gonzaga belajar bahwaperbedaan bukan sesuatu yang membuat canggung, melainkan sesuatu yang haruskita terima dan kita jaga. Lebih baikkita meerima perbedaan, tapi tidak menjadikannya masalah. Daripada demihilangnya masalah, perbedaan itu disamaratakan, Dijadikan satu. begitu kataPandji.
Pelajaran lain yang didapat ketika masa SMAnya adalah saat study tour. Ketika Ia dan temansekolahnya tinggal di sebuah desa di Lampung, hidup dalam kesederhanaan, dan bergaul bersama orang-orang desa yang ramah. Sampai suatu malam, dimalam terakhirdidesa itu, Pandji dan teman-temannya disuguhi ayam goreng oleh tuan rumah yangIa tinggali. Menu yang terasa sangat mewah malam itu, karena setiap malamnyatuan rumah hanya menyuguhinya tempe, kangkung, dan mie instan. Disitulah Pandjimengerti, ketika kita memberi dalamketerbatasan, muncullah pengorbanan. Saat pemberian menjadi besar sekali artinya.
Sementara masa kuliah adalah masa dimana Pandji menjadibagian dari sejarah kelam Indonesia saat itu. Ia memang tak secara langsungikut dalam kerusuhan yang terjadi di Trisakti, namun Pandji ikut turun ke jalanbersama teman-teman Mahasiswa di Bandung. Dalam rangka penumbangan rezimSoeharto.

Au Neko

Lewat buku ini kita akan melihat juga pengalaman-pengalamanPandji dalam “menyelami”Indonesia. Melalui tulisannya yang berjudul, DariSabang sampai Merauke, Pandji menggambarkan nya dengan penuh keramahan, dankesahajaan. Dalam perjalanannya dari Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya,Manado, Padang, Makassar, Kupang, Belitung, Jayapura, Bali, Jakarta, dan Medan,kita akan terhanyut di dalam bagian-bagian yang membuat kita senang, haru, mirisdan bahkan bisa membatin Damn!. Sepertiperjalanan ke Kupang misalnya, Ketika Pandji bertemu dengan Ibu-ibu diPuskesmas, dan menggendong anak-anak mereka yang kurus dan kurang gizi. Serta gambarancinta seorang Ibu pada anaknya. Menggendongnya dengan kasih, sambil membisikkan Auneko, yang artinya “Aku sayang kamu”. Yah, Pandji memang benar, bagaimanapun keadaannya, tak ada orang tuayang mau anaknya sakit, tak ada orang tua yang mau anaknya sedih. Cinta adalah hal terakhir yang mutlak kitabisa berikan pada anak kita, ketika kita tidak bisa, tidak kuasa memberikan apapun lagi. Kutipan diatas menunjukkan kemurnian, dan kecemerlangan Pandjidalam menarasikan sebuah cerita. Sungguh mengharukan.

Perjuangan itu...

Bagimereka yang telah kenal Pandji dan telah aktif di twitter sejak tahun 2009,pasti tahu dengan gerakan #IndonesiaUnite.Sebuah gerakan positif yang sempat ramai dibicarakan dikalangan anak muda.Ramai jadi perbincangan di jejaring sosial, juga dilingkungan saya dipesantren, walaupun saat itu hanya sekedar ikut-ikutan. Saya sering nulis Indonesia Unite di buku pelajaran saya. Jujur,saat itu saya tak tahu apa maksudnya. Dalam buku setebal 330 ini kitaakan mengetahui pula sejarah gerakan #IndonesiaUniteDari awal mula asal-usul kelahiran serta perkembangan, dan lika-likuperjuangannya sebagai sebuah gerakan Ideologis dengan tujuan-tujuan yang sangatjelas dan mendasar. Yang pada mulanya, #IndonesiaUnitehanyalah sebuah gerakan yang terbentuk pada tanggal 17 Juli 2009, dalam bentuk hastag twitter. Sebagai reaksi penggunatwitter terhadap isu terorisme. Diikuti dengan teriakan KAMI TIDAK TAKUT. Namun bukan berarti #IndonesiaUnite itu gerakan anti terorisme, Indonesia Unite merupakan sebuah gerakan, dan semangat yangada dalam diri setiap Bangsa untuk menciptakan perubahan. Indonesia Unite adalah bentuk kepedulian pemudaterhadap Indonesia. Yang tak kalah penting diulas dalam buku ini adalah tentangperjuangan Pandji dalam menyatakandiri sebagai orang Indonesia yang Patriotis. Diantaranya menjadi donortetap untuk seorang penderitaThalassemia, menjadi relawan C3 (Community for Children with cancer), Indonesia Mengajar, serta lewat karya-karyanya di jalur musik.

Memang seharusnya kita bersatu, Walaubukan menjadi satu.

Di akhirpembahasan tentang Indonesia Unite, ada satu lagi, sebuah cerita mengharukanyang dialami Pandji bersama Glenn Fredly. Saat itu Glenn Fredly mengajak Pandjike sebuh acara bertajuk “DOLOE SOEMPAH PEMUDA, KINI INDONESIA UNITE” yangmembawa misi menyatukan pengkotak-kotakan agama.
Acaratersebut diadakan oleh Glenn bersama komunitas gerejanya. Glenn mengundangPandji  sebagai wakil saudara-saudaraumat Islam, sekaligus untuk mengisi acara yang diselenggarakan di  DBEST Fatmawati itu. Pandji yang sudahterbiasa hidup di lingkungan berbeda agama, tidak merasa canggung beradadiantara mereka yang beragama kristen. Bahkan, nama Pandji disebut dalam doamereka.
Beberapasaat kemudian, Pandji dipanggil ke atas panggung, dan diminta memberi sambutansebagai tamu muslim. Saat Pandji mengucapkan “selamat malam”, Glenn justrumenyuruh Pandji untuk mengucap salam sebagaimana yang diajarkan Islam. “Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh”maka seisi ruangan pun menjawab, dengan hal yang sama. Saat itulah Pandjimerasakan damai, karena dua agama telah bersatu, tanpa ada yang merasa palingbenar.
Jujur,saya hampir menangis membacanya. Mengingat saya sedang mambawa Visi dan Misiyang sama dengan Glenn dan Mas Pandji. Yaitu menciptakan harmonisasi kehidupanberagama. Saya ingin curhat sebentar, di Kampus saya Fakultas SastraUniversitas Jember, saya menjadi bagian dari UKM LeKFAS. (Lembaga kerihanianFakultas Sastra), yang menjadi satu-satunya UKM Kerohanian di Indonesia yangmenaungi semua agama. (Mas Pandji boleh Cek di FB kami) J. Ketika Natal, kami membantu teman-teman Kristendan Katolik membuat Pohon Natal, begitu juga dengan teman-teman Hindu, Budha,dan lain-lain. Juga sebaliknya. Di Sekretariat kami, gambar lambang agamaberada dalam satu frame. Semua itubarawal dari aksi pembakaran gereja oleh teman- teman Muslim beraliran gariskeras yang terjadi Situbondo beberapa tahun silam. Maka pada tahun 1996, atasnama ingin menciptakan keharmonisan beragama, maka terbentuklah LeKFAS olehBapak Taufiq, yang saat ini telah menjadi dosen kami. Kami (LeKFAS) inginmenunjukkan pada mereka yang telah terlanjur disakiti, bahwa Islam adalah agamadamai, dan kami memiliki cinta. Bahkan, beberapa waktu lalu, kami sempatmengadakan seminar lintas agama. Semoga suatu hari nanti kami bisa mendatangkanMas Pandji dalam acara kami. J

BERANIMENGUBAH
Membaca karya-karya Pandji dalam buku ini, kita seakandihidangkan berbagai makanan lezat yang semuanya nikmat untuk dilahap. Karena berisinarasi-narasi yang penuh kejutan.

Melihat Indonesia dari A sampai Z

Menelusuri halaman demi halaman buku ini, kita akanmerasakan betapa uniknya gagasan seorang Pandji dalam melihat sebuah peristiwa,ia selalu memandangnya dari sudut pandang dia sebagai Pemuda. Pesan pertamayang saya dapat dalam buku BeraniMengubah adalah, Sudah berbuat apa saya untuk bangsa ini? pemuda macam apasaya? buku ini adalah salah satu, dari berbagai jenis buku yang mampu menyentuhsaya sebagai pembaca. Sebagai pembacayang yang terkatakan PEMUDA lebih tepatnya. Yang terkatakan sebagai agent of chance, agent of control, danberbagai selogan lainnya. Namun, bukan tidak mungkin citra yang begitu ‘wow’ itu justru bertolak belakang. Semisal, ia hanyapandai dengan memoles tampilan luar dirinya, dengan kesan-kesan necis dan gaulseperti kaum borjuis dan elitis. Dengan mengumbar sifat glamouritas danhedonismenya. Apalagi lupa dengan jati dirinya dan tanggung jawabnya sebagaikaum intelektual yang mengharuskan dirinya untuk selalu peka terhadap kondisisosial. Dari Deskripsidi atas, dapat ditarik benang merah bahwa, mahasiswa sebagai agen selalu hadirdalam menentukan setiap arah gerak perubahan berbangsa dan bernegara. Dalambahasa Antonio Gramsci, seorang intelektual harus dapat membahasakan sekiankeresahan-keresahan yang melingkari kondisi eksistensi sosial dalam masyarakatnya.Sejarah pun mencatat, setiap momen perubahan yangada di negeri ini ataupun dibelahan dunia manapun, mahasiswa atau pemuda selalumendapat tempat utama. Baik sebagai aktor intelektual maupun aktor lapangan. Di Indonesia sendiri, kekuatanmahasiswa terbukti dalam serangkaian revolusi besar seperti pada saat penggulingan Soekarno diIndonesia tahun 1966, sampai penggulingan tirani orba menuju era reformasi. Dariderasnya arus polarisasi peradaban yang tak bisa ditebak, dengan satu rezim zamanke rezim zaman yang lain, menjadikan paradoksal bagi kaum intelektual. Artinya,bisakah kita memahami secara mendalam bingkai dalam konteks tanggung jawab.

Pandji juga mengungkapkan pandangannya sebagai pemerhatidunia politik Indonesia, dimana Ia mengkritisi pemerintahan Soeharto dan SBYyang memang mengalami banyak perubahan, namun tak berarti lebih baik. Tak hanyaitu, host SUCI 1-3 juga menyentilpribadi kita. Kita akan merasakan bagaimana Pandji yang dengan tekun dan takkenal menyerah, menularkan semangat perubahan pada kita semua. 

Mendengar kata perubahan, kita seakan-akan dihadapkan padasesuatu yang besar, seakan-akan kita diharuskan mengubah Indonesia secarakeseluruhan. Padahal, perubahan, atau revolusi itu, bisa dimulai dari dirisendiri. Dan disini Pandji menggambarkan perubahan dengan mengajak kita “peduli”terhadap realita yang terjadi di di sekitar kita. Lebih melek politik, Ekonomi, Hukum, dan lain-lain. Melek politik, bukan berarti kita harus terjun ke dunia politik.Tapi bisa dimulai dengan updateberita-berita politik, dan memiliki wacana politik, namun, apabila kita memang memilikikemampuan disalah satu bidang dalam dunia politik itu, kita bisa masuk, danmemulai perubahan didalamnya. Intinya, kita harus mulaii belajar untuk peduli.

Masih bisakah kita tertawa dan berbahagia,bila secara pemikiran dan mentalitas saja kita masih lumpuh? Hal ini mengingatkan saya tentangdiskursus yang berbunyi, “kematianperadaban selalu diawali dengan miskinnyakesadaran reflektif-diskursif (discoursive conciousness)masyarakatnya”. Dengankonteks seperti itu, sudah selayaknya para elemen bangsa ini tidak hanya rutin melakukan ritualperingatan hari besar kebangsaan yang malah terkesan artifisial. Karena ketika berbicara Indonesia, berarti jugaberbicara tentang kecintaan, kepedulian, dan bagaimana memiliki sikap salingmenghargai perbedaan yang ada. Mencoba menanamkan dalam diri, bahwa bukan urusan kita membuat seisi Bumi menjadiseragam. Jadi, tak perlu kita membenci mereka yang tak satu pemikirandengan kita. Perpecahan itu terjadi karena kita belum mampu memahami konseptoleransi. Bahkan, Islam sebagai agama mayoritas kadang terkesan sebagai agama eksklusif, terpaku pada normatif, statis dantidak toleran. Dan itu karena ulahorang-orangnya. Jadi, Mari menjadiduta yang baik, untuk agama kita masing-masing.
 
Poin lain yang saya dapat dari buku inidiantaranya tentang fakta Industri tembakau, ulasan tentang resistensi yangterjadi di Papua dan Timor-timor, sehingga memunculkan gerakan-gerakan inginmembebaskan diri dari Indonesia, konsep beragama yang masih terasa rancu maknanya, serta kobaran semangatbahwa Indonesia masih sangat berpeluang untuk bisa bangkit. Benar-benarmengaduk pikiran. Antara kesal, bingung, dan senang. Membayangkan betapa Negeriyang sedang butuh perubahan. Dan kitalah aktornya!

Benang merahnya adalah, bagimanapun, kita sudah harus mampu berfikirkritis, analisa dan memahami setiap persoalan dengan cerdas. Hal itu menjadi semacam kebutuhan yang mutlakdibutuhkan. Pengaktualisasian dalam bentuk tindakan sangatlah perludiperhatikan. Sulit memang mewujudkannya, tapi pasti bisa!!! Bukan begitu Mas Pandji? J

MERDEKA DALAMBERCANDA

Sebagai Orang yang memiliki andil besar dalam komunitas StandUp Comedy Indonesia, dalam buku ini, lelaki pemilik nama panjang PandjiPragiwaksono Wongsoyudo ini membahas beragam Informasi, perenungan, dankecintaannya terhadap dunia  Stand Up Comedy Indonesia.
Pengetahuannya atas beragam disiplin keilmuan, musik, Host, Stand Up, dan dengan latarbelakang pendidikan di desain grafis ITB, tidaklantas melunturkan kesan cerdas terhadap sosok bertubuh gempal ini. Buku iniberisi tulisan tentang catatan perjalanan membangkitkan Stand Up Comedy di Indonesia.

Tentang Stand Up Comedy

Stand Up Comedy sendirimerupakan sebuah seni, dimana seorang komedian yang biasanya disebut comic, berdiri menyampaikan leluconmelalui monolog. Lelucon yang disampaikan umumnya tentang fenomena-fenomenayang terjadi di sekitar masyarakat. Atau, keresahan-keresahan yang dilihat paracomic tentang realita sosial, namundikemas menjadi sesuatu yang cerdas dan tidak biasa. Menghibur sekaligus mencerahkan. Jenaka tanpaharus melupakan persoalan bangsa.
Dalam buku yang terbit pada tahun 2012 lalu ini, Pandjimenekankan bahwa komunitas ini tidak dibentuk sembarangan. Tapi dibentuk secarateratur, serta mempunyai visi-misi, dan struktur yang jelas. Dan satu lagi,tidak semua orang bisa menjadi comic.Karena seorang comic harus sering berlatih, belajar analisis sosial, rajinmembaca, dan juga menulis materi.Karena tingkat kepekaan seorang comic,sangat berpengaruh terhadap penerimaan penonton. 

Buku ini bisa mengisi kekosongan pengetahuan kita tentang Stand Up Comedy Indonesia. Sumbanganyang besar arti dan nilainya. Agar tak ada lagi orang yang menganggapbahwa  Stand Up Comedy hanya jadi gerakan atributif saja (bagi orang-orangyang tidak terlalu memahami dinamika dan dialektika panjang gerakan Stand Up Comedy,  seperti saya sebelum membaca buku ini). Yangpenting lucu, tanpa memikirkan dan mencoba tahu sejarah terbentuknya gerakan ini. Hal ini terjadi karena kebanyakan orangtidak mau belajar atau mencoba mencari tahu perjalanan sejarah. Itulah sebabnyabanyak terjadi penafsiran-penafsiran sejarah yang asal-asalan. Begitu jugadengan sejarah Stand Up Comedy.Banyak orang hanya mengerti Stand UpComedy sebagai hiburan, trend, yangkapan saja bisa redup.
Nama-nama,seperti Warkop, Taufik Safalas, Ramon Papana, Indra Yudhisira, Agus Mulyadi,dan Raditya Dika. Adalah orang-orang yang punya kontribusi besar terhadap duniaStand Up Comedy Indonesia.

Viva la Komtung!

Stand Up Comedy Indonesia atau disingkat SUCI, memang baru lahir sekitarsatu setengah tahun lalu, diawali dengan kompetesi SUCI season 1 yangditayangkan di Kompas TV, Namun meskipun begitu, perkembangannya tergolongpesat. Terbukti dengan munculnya cabang-cabang SUCI hampir di setiap kota diIndonesia, termasuk di kota yang saya tinggali sekarang, Jember.
Selain informasilengkap mengenai kemunculan genrebaru dunia komedi Indonesia ini, Pandji juga membahas teori dan istilah-istilahpenting dalam Stand Up Comedy secara lengkap. Seperti, Bit, Set, Set Up, Punchline, Kill, dan Bomb. Ada juga Call back,Rule of 3, Act out, Impersonation, Riffing, One liner, Gimmick, dan Hecklers.
 
Sejak  halaman awal hingga akhir buku ini, kita akanmerasakan perjuangan Pandji dalam menyebarkan “virus’ Stand Up Comedy.Bergerilya dari panggung ke panggung, sampai akhirnya, tepat tanggal 28Desember 2011, Bersama Ernest Prakasa @ernestprakasa, Sammy D Putra @notaslimboy,Rindra @ponakannyaom, Asep Suaji @asepsuaji, dan Luqman Baihaqi @luqmanbhq, danbanyak lagi yang lainnya, Ayah dua anak ini berhasil mencetuskan sebuah acarayang menjadi penanda lahirnya sebuah genre komedi baru di Indonesia. Yang Iaberi nama “Bhinneka Tunggal Tawa”. Dengan ditonton ratusan orang, membuktikanbahwa Stand Up Comedy telah diterima di Indonesia. selanjutnya, di tahun 2012,banyak sekali even-even keren yang tak hanya mampu menghibur, tapi jugamenginspirasi banyak orang. Walaupun baru muncul, SUCI mampu bersaing dengan acara-acara komedi lainnya. 

Semangat yang sama akan kita lihat pada karya-karyanya, terbaca darikomentar-komentarnya yang sering dilontarkan dalam acara televisi, atau melaluikicauannya dalam jejaring sosial. Begitu kuat kecintaan dan kerinduannya terhadap Stand Up Comedy, Sebesarkecintaannya terhadap Negara ini. Sehingga ia mau menghabiskan energinya untukmembedah beragam peristiwa apapun di Negara ini, dengan sudut pandangnya yangberaneka.
Buku ini sangat tepat untuk dijadikan salah satu referensitentang Stand Up Comedy, tentang sejarah dan perkembangannya.Terutama bagi mereka yang mengaku dirinya sebagai seorang Comic, atau penikmat jenis komedi ini.[]

#SBDT



Catatan minggu lalu

Di luar sana, perbedaan itu mungkin bisa menimbulkan konflik, tapi di sini, perbedaan itu menimbulkan tawa. Begitulah tema besar yang diusung dalam Stand Up show #Satu Bangsa Dalam Tawa, yang digawangi Muslim @TretanMuslim yang mewakili Madura, Setiawan Yogy @setiawanyogy mewakili Kalimantan, Nugroho Achmad @Silolox Batak, dan Adiyan Rahman Pradana @Donooo182 mewakili suku Jawa. Materi-materi yang disampaikan pada pertunjukan yang berlangsung di Ballroom Aston Hotel Jember itu umumnya tentang fenomena-fenomena yang berkaitan dengan kedaerahan. Atau, keresahan-keresahan yang dilihat para comic tentang realita sosial, namun dikemas menjadi sesuatu yang cerdas dan tidak biasa. Menghibur sekaligus mencerahkan. Jenaka tanpa harus melupakan persoalan bangsa.


Pukul setengah tujuh malam, penonton, mulai masuk satu-persatu ke dalam gedung pertunjukan. Namun sebelum pertunjukan benar-benar dimulai, sekitar 15 menit para tamu disuguhi demo promosi salah satu sponsor acara. Selama si Bapak berbicara di atas panggung, saya yang datang bersama Diana @apriliyanti21 ngobrol tentang comic-comic yang akan tampil malam itu. juga tentang kekaguman saya terhadap gerak cepat komunitas @StandUpIndo_JBR yang masih balita, tapi sudah bisa melaksanakan kegiatan sekeren ini.

Sampai  akhirnya, duo host ganteng, yaitu Langit @langitbikull dan Rizky @Rizky_R muncul dari belakang penonton, dan terus membuat penonton tertawa dari awal hingga akhir acara. Terutama saat Langit mengeluarkan kalimat "dada bengkak". Langit dan Rizky yang memang sudah dikenal dikalangan penikmat StandUpIndo Jember, memiliki pengaruh kuat atas kelangsungan show ini. 

 @langitbikull dan Rizky_R

Komika pembuka pertama malam itu adalah Adit @SAM_Dexel, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jember yang berhasil nge-kill dengan bit tentang minuman keras, cita-cita, Indonesia, dan kereta api. 

 @SAM_Dexel
"Indonesia itu sebenernya adalah Negara yang inovatif, kreatif, dan tekhnologinya maju. Terutama dalam bidang perkereta apian, Karena, dari seluruh Negara yang ada di dunia, cuma Indonesia yang Kereta Apinya bisa berbunyi jugijagijugijagijug." *sambil nyanyi kereta malam.


Seketika saya dan ratusan penonton lainnya tertawa dan bertepuk tangan meriah. Tidak salah Panitia memilih lelaki berkacamata ini sebagai opener. Ia berhasil menyulut tawa penonton

Disusul dengan penampilan Ilham yang sebelum muncul sudah diingatkan oleh Langit dan Rizky, kalau komika satu ini gila, dan tak punya otak. Benar saja, Ilham muncul dengan atraksi tari salsa ala Maria Mercedes yang membuat kaget tapi juga lucu. Saya yang sebelumnya tidak pernah tahu orang ini, cuma geleng-geleng kepala dengan materi-materinya yang tak masuk akal. Punchline nya dia isi dengan Puisi absurd yang lagi-lagi membuat semua penonton berteriak  heboh.

@Ilhamsyah


Dan akhirnya, yang ditunggupun tiba. Muslim yang saya kira akan menjadi penutup acara justru menjadi headliner pertama. Tak seperti penampilannya di #WhatEverShow, malam itu Ia tampil santai. Hanya memakai kaos merah-putih bertulis FCK 48 tanpa kerah, dan topi berwarna senada, yang juga bertulis FVCK 48. Muslim dengan personanya yang menyebalkan sekaligus dipuja, menyapa penonton dengan mengatakan bahwa kaos yang dipakainya adalah desain baru pakaian khas Madura, yang lalu dilanjutkan dengan bit tentang JKT 48.

@TretanMuslim


Muslim memaksa penonton memasuki dunianya yang berwarna, saya tak habis pikir, dengan komposisi materi-materi yang dibawanya. Dari bit satu ke bit yang lain. dengan dibumbui umpatan-umpatan ala anak muda Surabaya. Dari bit tentang Dunia Lain, lalu masuk ke bit tentang perbedaan kesurupan antara orang Amerika dan Indonesia, sampai pada pembahasan tempat prostitusi di daerah Puger dan cilok Edi. Bit tentang Calon Presiden Smack down juga menjadi salah satu klimaks, dimana Muslim act out gerakan-gerakan ala smack down. Selain itu, Perawat kampret ini juga sempat me riffing penonton secara bertubi-tubi.


headliner ke dua adalah silolox, yang mewakili suku batak. Bit tentang ketidak pahamannya dengan kata Djancuk* langsung membuat rahang saya sakit. Kemudian, bit tentang adegan tabrakan di FTV, yang dilanjut dengan bit tentang susahnya jadi orang gendut ketika buang air besar di kakus jongkok, dengan gerakan-gerakan yang menggemaskan, Ia mampu membuat saya membayangkan betapa susahnya memang jadi orang gendut. Penggalian materi lolox dari kehidupannya, tidak hanya memberikan menyajikan tawa, tapi juga tips cara Buang Air Besar di kakus jongkok. DJANCUK kau bang! hehe

@silolox



Setelah lolox selesai melibas panggung selama dua puluh menitan, giliran Setiawan Yogi. Lelaki gondrong asal Samarinda itu, seperti biasa membawakan materi yang sedikit nakal, bit tentang santet ngilangkan titit, sampai materi tentang percintaannya yang menyakitkan. Ups! maaf Kaka Yogi. Gayanya yang macam Rock Star membuat saya betah melihatnya berlama-lama di panggung. Walaupun ternyata dia sedang sakit, Yogi tetap mampu membuat kami semua terhibur. Penampilannya diakhiri dengan sebuah bit berani tentang Malaikat penjaga kubur. 

@setiawanyogy


 

Dono menjadi penampil terakhir malam itu. Comic yang sempat mengaku manajer nya Cak Muslim ini juga membuat saya melting. Saya baru ngeh, kalu tampangnya kece dan keren. Karena yang saya tahu,  Bang Dono ini sering dibully di twitter oleh Cak Muslim dkk. Gayanya santai, dan materinya gampang dicerna. Hal ini langsung membuat saya kagum dengan komika asal Surabaya ini. Dono membuka shownya dengan riffing penonton yang memakai sandal jepit. Ia lalu membawa penonton pada pemikiran laki-laki, menuju materi tentang pacarnya dan cerita tentang Si Popo. Saya kagum dengan kelucuan-kelucuan dalam set nya yang dimaksimalkan dengan act out-act out mencengangkan. Sejak itu pula saya memutuskan untuk menjadi penggemarnya. Semoga suatu hari nanti, saya bisa melihatnya kembali.
Sekitar pukul 22:17 (menurut jam saya), Dono mengakhiri penampilannya dengan gemuruh tepuk tangan penonton. Aroma kebahagiaan tercium jelas dalam ruangan itu.
@donooo182 Saat me riffing penonton





Tentu sangat pantas bila kami memberikan apresiasi terbaik kepada @StandUpIndo_JBR. Rasa puas, senang, bahagia, semua campur aduk. Luar biasa apa yang saya lihat malam itu. Mereka keren sekali. Tak lama, para pengisi acara menaiki panggung untuk ikut mengucapkan terimakasih kepada semua pendukung acara yang ada di sana. Serta berterimakasih kepada penonton yang telah datang.



Semoga, Stand Up Show kali itu mengandung Sumbangan yang besar arti dan nilainya bagi kita semua. Agar tak ada lagi orang yang menganggap bahwa  Stand Up Comedy hanya jadi gerakan atributif saja (bagi orang-orang yang tidak terlalu memahami dinamika dan dialektika panjang komunitas ini).

Dan Semoga ke depannnya semakin banyak event-event keren yang tak hanya mampu menghibur, tapi juga menginspirasi banyak orang. Walau pertunjukan itu telah usai seminggu lalu, namun saya masih merasakan atmosfernya sampai sekarang. 

VIVA LA KOM TUNG!!!

#Sesi foto
Sesi foto adalah hal yang paling saya tunggu. Karena saat #WhatEverShow kemarin, saya gagal foto dengan cak Muslim. Ketika sedang antri foto, saya sempat dibuat panik, karena tiba-tiba si Abang gondrong hilang dari pandangan. Saya langsung keluar barisan, dan mencari sosok itu. Ehm, Bang Yogi adalah orang kedua yang saya paling inginkan malam itu. Tapi tak lama, saya menemukannya kembali. Kamipun foto bareng, dengan perasaan bahagia tak terhingga.  Abang gondrong ini baik banget ternyata. Dia juga sempat mengatakan, "makasih, udah datang". :D

Sementara ketika foto dengan Bang Dono, si Mas fotografer tak bisa mengoperasikan kamera kami. Alhasil, foto kami garing, karena kelamaan. Tapi, foto bareng Bang lolox adalah yang paling lucu, karena Abang Batak ini jauh dari kesan seram. Dia justru sangat ramah dan murah senyum. TERIMA KASIH BANG!




- Seharusnya saya pinjam bangku, agar tinggi badannya tak begitu jauh terlihat. hehe
Oia Cak Muslim, Saya orang Madura juga looh. Sumenep lebih tepatnya:* toss dulu dong!
 

- Abang gondrong yang kece, waktu sesi foto masih sakit perutkah? :) 


Abang Batak yang ramah!!!


- Idola baruku, >_< You're rock!!!


NB: Foto-fotonya kurang bagus, karena posisi duduk saya berada jauh di samping panggug.