Melihat Munir dalam sebuah lakon
Selamat pagi, mohon ijinkan aku
bercerita tentang Negeri yang ku cintai tapi tak pernah mampu ku mengerti
Dulu ketika kami demonstrasi, kalian ambil bedil dan kami kalian tembaki, kalian bicara di koran, radio dan telivisi mencaci maki kami, rotan kalian tak letih merajam tubuh kami, tongkat setrum kalian memanggang hangus kulit kami, gas air mata kalian merusak paru-paru kami...
Ketika perjuangan kami berhasil menumbangkan Tirani yang kalian bela, tiba-tiba kalian yang bergembira, muncul mengisi halaman media menjadi pahlawan yang paling berjasa. Lalu kalian bicara tentang Demokrasi, tentang nilai-nilai keadilan, kebenaran.... Tentang semua yang dulu kalian haramkan.
Tuan dan Nyonya, mungkin kalian punya uang yang bisa membeli halaman muka semua media. Kalian punya uang untuk tampil sumringah seolah tak berdosa bahkan paling berjasa. Tapi jangan lupa Tuan dan Nyonya, anyir darah kawan-kawan kami tak akan pernah hilang dari hidung kami... Tak akan hilang walau kau muncul setiap hari dimedia apapun. Kejahatan kalian tak akan hilang walau kalian memborong iklan.
Tuan dan Nyonya, engkau mungkin bisa membohongi beberapa orang untuk beberapa waktu, tapi engkau tak akan pernah bisa membohongi semua orang untuk selamanya!
Tulisan ini aku buat untuk 4 mahasiswa yg gugur di Trisakti, 9 gugur di semanggi, 2 gugur di Lampung, 1 gugur di Palembang, 2 gugur di Sumatera Utara...
Tulisan ini aku buat untuk Marsinah dan mahasiswa yg gugur dlm April Makasar berdarah...
Tulisan ini aku buat untuk mereka yg di culik dan tak kembali, untuk mereka yang berjuang dengan gagah berani....
Aku masih ingat dan tak akan lupa.
Dulu ketika kami demonstrasi, kalian ambil bedil dan kami kalian tembaki, kalian bicara di koran, radio dan telivisi mencaci maki kami, rotan kalian tak letih merajam tubuh kami, tongkat setrum kalian memanggang hangus kulit kami, gas air mata kalian merusak paru-paru kami...
Ketika perjuangan kami berhasil menumbangkan Tirani yang kalian bela, tiba-tiba kalian yang bergembira, muncul mengisi halaman media menjadi pahlawan yang paling berjasa. Lalu kalian bicara tentang Demokrasi, tentang nilai-nilai keadilan, kebenaran.... Tentang semua yang dulu kalian haramkan.
Tuan dan Nyonya, mungkin kalian punya uang yang bisa membeli halaman muka semua media. Kalian punya uang untuk tampil sumringah seolah tak berdosa bahkan paling berjasa. Tapi jangan lupa Tuan dan Nyonya, anyir darah kawan-kawan kami tak akan pernah hilang dari hidung kami... Tak akan hilang walau kau muncul setiap hari dimedia apapun. Kejahatan kalian tak akan hilang walau kalian memborong iklan.
Tuan dan Nyonya, engkau mungkin bisa membohongi beberapa orang untuk beberapa waktu, tapi engkau tak akan pernah bisa membohongi semua orang untuk selamanya!
Tulisan ini aku buat untuk 4 mahasiswa yg gugur di Trisakti, 9 gugur di semanggi, 2 gugur di Lampung, 1 gugur di Palembang, 2 gugur di Sumatera Utara...
Tulisan ini aku buat untuk Marsinah dan mahasiswa yg gugur dlm April Makasar berdarah...
Tulisan ini aku buat untuk mereka yg di culik dan tak kembali, untuk mereka yang berjuang dengan gagah berani....
Aku masih ingat dan tak akan lupa.
Sepenggal surat yang pernah ditulis
Adian Natipulu, seorang aktivis Forum Kota yang kini menjadi Sekretaris Jenderal Perhimpunan Nasional
Aktivis 98 (PENA 98). Sebuah “wacana romantis” tentang militerisme, kejahatan HAM dan kematian
bagi bangsa sendiri.
Sementara
itu, bertepatan dengan 15 tahun reformasi, wacana diatas diangkat oleh teater dari
Madrasah Aliah Maarif Ambulu (MAMA), dalam lakon berjudul Peradilan Sukma yang dipentaskan pada kamis, (12-05-2013). Dalam
rangka lomba teater tingkat SMA se-Jawa Timur yang diselenggarakan oleh Ikatan
Mahasiswa Sastra Indonesia (IMASIND) Fakultas Sastra Universitas Jember
(FS-UJ).
Pendeknya,
dalam durasi sekitar 15 menit, lakon ini bertutur tentang kasus Timor-Timor, kejahatan
HAM, tragedi Trisakti-Semanggi 1998, Korupsi, dan kasus besar lain yang tak
terselesaikan di negeri ini. Persoalan
kemanusiaan memang tak lepas dari tanggung jawab pemerintah, yang seringkali
menjadikan rakyat sebagai korban, demi mencapai
“tujuan sakti” mereka. Oleh karena itu, dengan
menghadirkan unsur-unsur mengerikan, dan gambaran
penderitaan berkepanjangan
yang harus dihadapi oleh korban-korban ketidak-adilan, lakon ini mengajak kita melihat
potret sebuah "kejahatan
sejarah". Penegak hukum yang seharusnya
melindungi, justru memilih menjadi pelayan bodoh
yang hanya melayani kehendak penguasa.
Pentas
Sebuah
lampu pangung menyorot dua orang lelaki setengah telanjang, yang menari
mengelilingi panggung. Seorang perempuan bertudung kain berwarna merah
bersimpuh diam ditengah-tengah panggung dengan palu besar ditangannya. Seorang
yang lain berdiri dibagian belakang panggung memikul sebuah timbangan, (penggambaran dewi keadilan).
Sebuah
erangan panjang mengiringi munculnya seoarang lelaki tua penggambaran“Sang Jendral” yang siap dimintai pertanggung
jawaban oleh “mereka” yang terkait dengan isu-isu kejahatan HAM. Sebagai sebuah mozaik, kemunculan Bella, dan dua mantan
ajudan yang dulu kerap dijadikan alat untuk untuk
melakukan aksi heroik, menambah
kematangan lakon dengan kostum militer yang lusuh, dan make-up pucat.
Kompilasi
antara teater, tari, puisi, ketukan djimbey,
dan nyanyian-nayian pilu disepanjang pementasan ini, membuat kuduk merinding.
Pun, setting panggung yang apik membuatnya tampak sempurna.
Peradilan Sukma semakin
terwujud dengan kemunculan “sosok” Marsinah, Wiji Thukul, beberapa korban
tragedi Semanggi, dan Munir, aktivis Kontras yang dibunuh pada tanggal 7
September 2004, saat dalam perjalanan ke Belanda. Sosok-sosok itu mengitari
tubuh “Sang Jendral” yang meringkuk pasrah. Suasana semakin tegang, dengan
suara-suara berbau kematian yang siap mengantar tubuh Sang Jendral pada ajalnya.
Teriakan itu terus didengungkan hingga tubuh Sang Jendral luruh, beku dan
terkapar ditengah panggung. Lakon berakhir, menyisakan nafas yang tertahan
didada saya. Mengingat kasus-kasus serius yang dengan sengaja diabaikan oleh
para penegak hukum. SBY yang harusnya ikut bertanggung jawab justru tak pernah
membantu apa-apa, dengan alasan tak tahu menahu atas kasus ini. Duh!
Di balik layar
Dan
beruntung, dosen saya yang memang hobby
telat itu, belum datang. Sayapun cepat-cepat berlari keluar kelas, memburu sang
pelatih tetater. Tak lama, akhirnya saya bertemu dengan dua orang sekaligus.
Uus, pemeran Bella, dan Khairul Anam sang pelatih, yang menurut saya telah
sukses menampilkan sebuah karya yang keren,
dan berani. “Paling nggak, dengan ini kami mengajak penonton untuk cerdas membaca
kondisi sosial yang ada, dari pada mentasin cerita cinta, kami mencoba membuat
dobrakan aja”.
Selain
itu, menurut lelaki bertubuh tinngi ini, mereka telah berlatih selama 6 bulan,
karena produksi basic keaktoran bukan
hanya untuk sebuah pementasan, tapi sebagai basic dasar anak-anak untuk belajar
teater. “Membuat sebuah pementasan itu tak semudah yang orang-orang bayangkan.
Karena setiap peran yan mereka mainkan, harus dipetangggung jawabkan. Dan kami
mencoba memupuk rasa tanggung jawab itu pada anak-anak didik kami”.
Khairul
Anam sendiri, mulai belajar basic
keaktoran sejak sekolah di MAN 1 Jember. “Sejak itu, saya dikenalkan pada
seorang seniman dan budayawan Jember, Gus Oong. Di sana saya belajar bagaimana
menjadi aktor yang baik. Selain itu, saya juga belajar banyak tentang teater
dari ayah”. Katanya lagi.
“Seorang
pemain yang baik, bukan hanya mampu tampil didepan orang banyak, tapi bagaimana
hal itu tertanam dari dalam diri”, katanya menutup obrolan.
Terlepas
dari semua itu, lakon ini akhirnya berhasil menjadi juara, setelah bersaing
ketat dengan SMAN 2 Lumajang dengan lakon “Kisah
Negeriku”, dan SMAN 4 Jember yang menampilkan lakon”Malam Jahanam” karya Motinggo Busye. Pekan Raya IMASIND yang
diselenggarakan di Aula FS-UJ ini menghadirkan bakat-bakat luar biasa dari 12 peserta
lainnya. Uus, pemeran Bella mengaku bangga karena berhasil menampilkan yang
terbaik untuk sekolahnya. “awalanya sih deg-degan, tapi akhirnya lega dan
seneng banget”, katanya di sela-sela obrolan singkat saya dengannya di depan
ruang 3 FS-UJ.
