Cerita Fiktif yang diilhami lagu Iwan Fals berjudul si
Putri dan si Fulan. Juga berdasarkan beberapa data dari buku, Internet, dan
sumber lain, tentang Sejarah kelam,”Tragedi Jakarta 1998”.
Penggalan lirik Si Putri dan Si Fulan
Ini kisah cinta demonstran Si putri dan si fulan jumpa di depan istana Terkadang di gerbang DPR Istana dan DPR tempat mereka pacaran Sehabis demo kecapean Tenggorokan kering perut keroncongan Es kelapa muda sepiring ketoprak Mata saling memandang Akhirnya jadian, bukan jadi-jadian Si putri dan si fulan Menuntut harga diturunkan Si putri dan si fulan Butuh presiden yang negarawan Si putri dan si fulan Tak punya ambisi politik apalagi jadi pejabat Yang dia inginkan negeri ini seperti apa yang diajarkan dosen-dosennya
Jakarta, Mei 1998
Akhir-akhir ini, kondisi
negara sedang tidak stabil. Rezim Soeharto sedang goyah. Inflasi yang merupakan
imbas krisis di wilayah Asia membuat masyarakat mengalami krisis multidimensi.
Sementara itu, sebagian pemilik modal telah kabur ke luar negeri, tanpa ada
tanggung jawab. Elite politik, militer,
semuanya berantakan, dan saling menjatuhkan.
Sementara, perempuan
bernama Putri itu tiba-tiba berteriak histeris, begitu melihat sesosok laki-laki tengah terbaring tak berdaya, dengan darah membasahi
almamater birunya.
Mata lelaki itu bertemu dengan matanya. Membuat kepalanya berputar, telinganya berdenging mendengar suara tembakan dan teriakan yang saling
bersahutan. Putri takut,
kalau Ia takkan lagi bisa bertemu dengan
lelaki itu, untuk waktu yang sangat lama.
Akhir dari sebuah awal...
10 Agustus 2002
Putri melemparkan pandangan ke luar jendela,
menatap barisan pohon yang basah karena hujan. Jam diding sudah ada di angka 23:30, namun kantuk belum juga singgah. Ia lalu membuka-buka kembali
buku hariannya, memandangi selembar kertas bergambar sketsa wajah, pemberian seorang
lelaki yang pernah begitu dicintainya. Sengaja Ia menyimpan kertas usang itu. Setidaknya sebagai pengingat, bahwa lelaki itu
pernah ada, bahwa lelaki itu pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Putri mencoba mengingat pertemuannya pertama kali, dengan lelaki bermata teduh itu. Di
sebuah warung di seberang gedung DPR-RI.
Saat keduanya sama-sama kelalahan selepas demo. Dan sejak saat itu,
Putri merasa
ada yang berbeda. Ia tenggelam di bola mata makhluk bernama Fulan itu. Mata yang teduh, sekaligus menghanyutkan.
***
10
Oktober 1997
Putri bertemu dengannya lagi, ketika
langit malam sedang penuh bintang. Tentu saja karena tak sengaja. Kali itu Fulan yang menyapa dan
menghampirinya. Mereka lalu hanyut dalam obrolan panjang tentang apa saja. Putri dan
Fulan-pun kerap jalan bersama. Diskusi, makan, dan entah apa lagi. Dua manusia
dengan Ideologi yang sama. Idealisme yang sama.
***
11 Januari 1998
Putri semakin tak paham dengan perhatian Fulan. Suatu waktu, lelaki itu menjadi
malaikat, tapi di waktu yang lain, Ia berubah menjadi iblis. Hari itu misalnya, Fulan berkirim pesan pada seorang teman, jika Ia ingin bertemu Putri di
kantin Sastra.
Baru
saja Putri menginjakkan kakinya di kantin, Fulan sudah berdiri di hadapannya.
“Nih,” katanya sambil menyodorkan selembar kertas terlipat.
Putri tersenyum tipis melihat betapa tidak rapinya
lipatan-lipatan kertas itu.
Selanjutnya mata Putri melebar
begitu lipatan-lipatan itu terbuka sempurna. Ia melihat sebuah wajah yang sedang tersenyum di atas kertas.
Wajah yang polos dan manis. Putri tidak percaya dengan
apa yang dilihatnya. Gambar yang indah dan bagus. Dan itu adalah gambar dirinya.
“Bagus?,”
Putri hanya mengangguk, dan menggigit bibir, menatap kertas
bergambar itu lagi. Ia lantas memberanikan diri menatap mata laki-laki di
depannya, tepat ketika Fulan juga sedang manatapnya. Ia merasakan degup jantung yang sedari tadi berdegup
lebih kencang dari biasanya.
***
Sekitar April 1998, entah tanggal berapa
Hari itu Putri bangun terlalu
siang. Tubuh perempuan itu lelah yang luar biasa, karena beberapa hari
terakhir, jam tidurnya berantakan. Ia lebih sering berada di warung kopi.
Diskusi terkait persiapan aksi besar-besaran yang akan dilakukan bersama kawan-kawan
Mahasiswa. Bagaimanapun, saat ini Ia memiliki kedudukan penting, sebagai
anggota Senat Fakultas Sastra.
Ia kemudian bangkit dan berdiri
di depan cermin. Mematut wajahnya yang semakin kusam.
“Mungkin ini juga yang membuat Fulan tak kunjung
mengatakan perasaannya padaku. Karena aku tidak cantik,” katanya sambil tersenyum.
Putri menghirup napas dalam. Teringat gurauan
sahabat-sahabatnya, yang mengatakan bahwa Fulan menyukainya. Tapi nyatanya, walau
mereka kerap bertemu, Fulan tak menunjukkan sikap apapun padanya. Maka Putri
hanya akan menunggu, entah sampai kapan?.
***
02
Mei 1998
Penolakan terhadap Rezim Soeharto semakin merajalela. Selain inflasi sejak pertengahan tahun 1997, pertumbuhan Ekonomi yang tidak merata juga membuat rakyat kebakaran jenggot. Sementara itu, tak ada upaya dari Soeharto untuk mengembalikan semuanya menjadi normal. Ia hanya
berusaha keras, bagaimana mengembalikan saham, agar tak terjerat hukum. Namun
kini, Rakyat Indonesia tak lagi bisa di bohongi, dan di
belenggu. Revolusi harus terjadi. Soeharto harus turun!.
Demonstrasi terjadi dimana-mana, Mahasiswa
sibuk melakukan aksi-aksi dan mimbar bebas di daerah masing-masing. Selain menuntut turunnya
Soharto, Mahasiswa juga mendesak pemerintah agar segera membubarkan Depatemen Penerangan yang saat itu
ditugaskan untuk menyensor pemberitaan Media.
***
11 Mei 1998
Putri berjalan gontai ke arah sekeritariat Senat Universitas Atmajaya.
“Assalamualaikum...” sapanya.
Beberapa Anggota Senat tampak berbincang serius.
“Waalaikum salam,,, jawab Kalsita yang sedang menyiapkan press release. Eh, Putri. Masuk,”
Tanpa menunggu lama, Putri mendekati beberapa kawan mahasiswa yang ada di ruangan itu. “Aksi
damai kan?,”
Beberapa dari mereka mengangguk. “Ya, hanya
mimbar bebas,”.
Semua yang ada di ruangan itu tampak lelah. Mengingat sudah sejak lama mereka mempersiapkan aksi ini, bahkan sejak sidang Umum MPR-RI tanggal 11 Maret lalu.
Putri teringat Fulan yang sudah sebulan tak memberinya kabar. Dan Ia merindukannya. Tapi cepat-cepat Putri
menepisnya. Fulan ternyata tak benar-benar ada untuknya.
***
12 MEI 1998
Sekitar pukul 10.30-45 di daerah Sudirman.
Aksi mimbar bebas
dimulai, diawali pengibaran bendera setengah tiang dan mengheningkan cipta,
sebagai keperihatinan terhadap musibah yang menimpa bangsa Indonesia.
Dilanjutkan dengan orasi oleh beberapa dosen dan mahasiswa.
Tapat pukul dua belas siang, massa bergerak menuju gedung DPR-MPR RI
melewati Universitas Tarumanegara. Bergabung dengan massa dari Trisakti.
TURUNKAN SOEHARTO!!!
TURUNKAN SOEHARTO!!!
***
Yel-yel pergerakanpun, terus dikumandangkan. Membuat Putri dan ribuan demonstran lainnya bergairah,
meski awan terlihat keabuan.
SUMPAH MAHASISWA INDONESIA
KAMI MAHASISWA INDONESIA BERSUMPAH
BERTANAH AIR SATU TANAH AIR TANPA PENINDASAN
KAMI MAHASISWA INDONESIA BERSUMPAH
BERBANGSA SATU BANGSA YANG GANDRUNG AKAN KEADILAN
KAMI MAHASISWA INDONESIA BERSUMPAH
BERBAHASA SATU BAHASA TANPA KEBOHONGAN
Hidup MAHASISWA !!!
Hidup RAKYAT !!!
BERTANAH AIR SATU TANAH AIR TANPA PENINDASAN
KAMI MAHASISWA INDONESIA BERSUMPAH
BERBANGSA SATU BANGSA YANG GANDRUNG AKAN KEADILAN
KAMI MAHASISWA INDONESIA BERSUMPAH
BERBAHASA SATU BAHASA TANPA KEBOHONGAN
Hidup MAHASISWA !!!
Hidup RAKYAT !!!
Putri bergidik mendengarnya. Fulan, lelaki yang dirindukannya, sedang berdiri depannya. Namun belum sempat
Ia menatap lekat lelaki itu, dibelakangnya terjadi keributan. Mahasiswa bentrok
dengan aparat Yang saat itu dikomandoi oleh Angkatan Bersenjata Republik
Indonesia (ABRI).
***
Saat seorang mahasiswa mambacakan orasi, tiba-tiba, seorang laki-laki tak dikenal meneriaki barisan massa dengan kata-kata kotor,
dan berlari ke arah aparat. Massa yang tersulut emosi, mengejar orang tak
dikenal itu ke arah yang sama, sehingga membuat barisan aparat gusar. Namun
akhirnya massa bisa kembali di kondisikan, karena belakangan diketahui, bahwa orang
tersebut itu adalah salah satu oknum yang memang berniat menjadi provokator.
Sayangnya, saat mahasiswa mulai mundur teratur, barisan aparat justru
menyulut lagi emosi yang sudah teredam itu.
Cuaca semakin mendung. Sebagian Mahasiswa menyelamatkan diri ke kampus
Trisakti yang tak jauh dari gedung DPR-MPR-RI. Namun aparat tetap mengejar
massa hingga ke dalam kampus. Mahasiswa juga mengalami pemukulan, tendangan, dan kekerasan lain. Aksi yang rencananya dibuat damai
sekarang sudah tidak lagi. Justru kengerian yang
ada. Sebagian dari kawan-kawan Mahasiswa di
tangkap dan dianiaya tanpa ampun. Hingga berjatuhan dan tergeletak di jalan..
Dan tanpa bisa dihindari, empat mahasiswa Trisakti tertembak hari itu.
“Hafidin Royan, Heri, Hendriawan Sie, dan Elang Mulya Lesmana”
Beberapa hari berikutnya,
tragedi Trisakti memicu gelombang kerusuhan yang lebih besar. Menewaskan
ratusan orang, serta ratusan korban pelecehan seksual.
***
21 Mei 1998
Sekitar pukul sepuluh pagi, setelah gagal mendapat dukungan Ulama dan Tokoh
Masyarakat, serta pemunduran diri 14 menterinya, Soeharto menyatakan berhenti
dari jabatan kepresidenan, digantikan wakilnya, BJ Habibie. Pada awalnya, semua orang bersuka cita menjadi
saksi runtuhnya rezim Orde Baru. Ini menggugurkan
mitos dirinya sebaga tonggak stabilitas Nasional. Namun akhirnya, Masyarakat
kembali sadar, bahwa kroni Orde Baru masih berkuasa. Dan Habibie adalah bagian
darinya. Mahasiswa beranggapan, bahwa reformasi justru jauh dari harapan.
Oktober 1998
Ketegangan kembali memuncak menjelang sidang Istimewa MPR yang sekaligus menyelenggarakan
Pemilihan Umum. Tapi Masyarakat menolaknya,
karena peserta sidang masih berasal dari kroni-kroni Soeharto. Mahasiswa menuntut
persidangan dengan perwakilan terpercaya.
13 November 1998
Tuntutan Masyarakat dan Mahasiawa tidak dipenuhi. Pemerintah tetap
menggelar persidangan. Yang akhirnya, selama Sidang berlangsung, ribuan
Mahasiswa turun ke jalan. Dan pada malam menjelang penutupan Sidang, terjadi
penembakan di jembatan Semanggi. Dalam peristiwa yang lebih berdarah dari
tragedi Trisakti, aparat menembakkan peluru hampa, peluru karet, bahkan peluru
tajam ke arah kerimunan demonstran. Saat malam semakin larut, tembakan semakin
menderas, dan korban semakin berjatuhan.
Aparat keamanan memasuki kancah pertempuran dengan lagu-lagu mars, dan
sorak sorai menggema. Bagi ABRI, pertempuran Semanggi adalah kemenangan yang
membanggakan bagi Negara tercinta. Setiap korban Mahasiswa yang jatuh, meningkatkan
semnagat juang pasukan.
13 November menjelang
malam
Putri masih sempat mengambil beberapa gambar, saat Ia mendengar lagi
suara “DOR!!!” beberapa meter dibelakangnya, bersamaan dengan teriakan, “Fulan
tertembak,”.
Sambil menangis, Ia berlari kearah tubuh itu. Pandangannya nanar, kakinya gemetar, melihat tubuh itu terkapar.
***
Usai dibersihkan lukanya, tiba-tiba, Fulan bangun dan mencengkeram lengan
perempuan yang duduk di sampingnya.
“Putri!, Saya minta maaf,” katanya sambil menatap perempuan yang diam-diam
dicintainya.
Putri tercekat menatap Fulan kembali. Lalu mengedarkan pendangan ke
seliling. Sekali lagi, mata lelaki itu mengenyahkan rasa sakit dan lelahnya. Putri
lalu mengusap air mata, dan menarik
napas dalam-dalam.
“Aku juga minta maaf,” tuturnya lirih.
“Berhentilah menangis.!, di luar sana banyak yang butuh bantuan kamu. kamu
harus kuat, kita hadapi ini sama-sama. sekarang kamu pergi, kawan-kawan yang
lain, tapi jangan lupa kembali,” katanya, sambil melepaskan genggaman.
“Baik, aku pergi dulu, aku
akan kembali secepatnya,” mata lelaki itu meredup. lalu mengangguk sedikit.
“Saya cinta kamu,” katanya sebelum Putri benar-benar pergi. Putri tersenyum,
dan pura-pura tak mendengar. Ia takut, Fulan hanya bergurau.
***
Baru saja Putri akan memulai merawat para korban, Ilham datang dengan wajah
lesu. Sambil berbisik, “Fulan meninggal Put”, katanya.
Napas Putri tiba-tiba terasa sesak,
lututnya lemas. Jantungnya mengalami percepatan gila-gilaan, Ia menangis
diantara keributan disekitarnya. Pandangannya kabur, dan ahirnya jatuh terduduk
karena lututnya tak lagi kuat menopang berat tubuhnya.
Putri bersikeras menajamkan pandangannya. Melihat sesosok tubuh yang terlihat semakin jauh. Tubuh yang
semakin terlihat sepi, dan beku. Selanjutnya Putri merasa semuanya menjadi hitam.
Putri masih ingin sendiri. Ia bahkan tak ikut
ketika sahabat-sahabat mangantar Fulan, ke tempat
tidur abadinya. Ia hanya ingin menenangkan diri, sambil mengenang lelaki itu sebagai Fulan yang angkuh, Fulan yang manis, dan
Fulan yang menyebalkan.
Putri bersyukur, perjuanganya bersama
kawan-kawan yang lain tak sia-sia. Tapi Fulan? benarkah
cerita tentangnya tak akan
dikenang? Dan benarkah kabar kematiannya hanya akan
menjadi berita selingan sebagai korban demonstrasi? Benarkah orang-orang hanya
akan mengatakan prihatin dan melanjutkan sarapan mereka ketika melihat berita
kematiannya ada di koran atau televisi? Entah!
Hingga pertengahan desember 1998, kerusuhan terus terjadi. Ratusan warga
sipil dan aktivis hilang, bahkan tewas. Yang
hingga kini, kasusnya tak terselesaikan secara hukum.
Akhir
yang sebenarnya,,,
15 Mei 2001
Putri menatap gundukan tanah di
depannya. Tiga tahun berlalu sejak kejadian itu, sahabat-sahabat yang pernah menjadi saksi kehidupannya, kini sudah melanjutkan hidup
masing-masing.
“Put,”
Putri menoleh, mendapati Gilang, dan beberapa
sahabatnya yang lain, membawa karangan bunga untuk pusara
Fulan.
Mereka lalu
saling diam, sibuk dengan doa masing-masing. Putri percaya, bahwa Fulan tak pernah benar-benar pergi, dia akan
terus melihatnya tumbuh dan berproses menjadi Manusia seutuhnya. Putri
berjanji, untuk hidup lebih baik, untuk bagian Fulan juga.
Putri menatap lelaki punggung
lelaki di hadapnannya. Ia sadar, bahwa Ia harus beranjak dari masa lalu. Dan
kini Ia bertekad memulai kembali semuanya. Ia ingin menulis ceritanya di
lembar yang baru.
Di akan memulai dengan kata “Cinta”,
“Fulan”, dan diakhiri dengan “Gilang”, bahagia selamanya.”[]
Selesai,,,


0 komentar:
Posting Komentar