Surabaya, November 2012
Namaku Eko, 22 tahun.
Mahasiswa di ITS jurusan tekhnik mesin. Aku seorang penggila dunia maya. Setiap
hari, setiap jam, aku selalu menyempatkan diri untuk membuka akun facebookku.
Mataku selalu lekat menatap layar kotak berukuran 14 inchi itu. Mengomentari status
teman, melihat-lihat foto, atau sekedar mengirim permintaan pertemanan untuk orang-orang
berwajah bening. Dengan harapan bisa menemukan gebetan.
Sampai suatu hari, Aku
membaca sebuah status dari akun bernama Purple Heart. Ia bercerita
tentang kegundahan hatinya. Penasaran, aku melihat-lihat profilnya. Rupanya
Ia orang yang selama ini aku cari. Aku mulai mengomentari statusnya, tak lama
dia membalas. Kami mulai berkenalan, dan saling bercerita tentang diri
masing-masing. Dua jam berlalu, kami telah terlibat dalam obrolan panjang. Dan
sejak itu pula, aku ingin kenal lebih dekat dengannya. Aku tertarik padanya. Di
akhir obrolan, dia menawarkan hubungan persahabatan padaku. Meminta nomor Hp
dan alamatku. Diiringi backsound Puzzle of my heart-nya Westlife,
hatiku memekar bahagia. Ah, akhirnya menemukan titik cerah, sebuah arah.
Beberapa minggu kemudian, kami memutuskan untuk
bertemu. Benar-benar di luar dugaan. Dia sosok sempurna dimataku. Rambutnya
hitam, tubuhnya juga padat berisi. Terlihat sensual dengan jeans gelap, kaos
ketat, dan jaket hitam. Seketika aku ngiler. Dia seksi sekali, aku membayangkan
dia membelakangiku sambil megal-megol menunjukkan pantatnya yang padat.
Busyet, aku gemes, Ingin meremas-remas dan menepuk-nepuknya.
Hari itu aku kembali bertemu dengannya. Ku menggandeng
tangannya yang berbulu halus, berbagi cerita sambil menjilat ice cream, dan jalan-jalan mengelilingi
kota Surabaya. Sempat aku berpikir, bisakah ku miliki dia? karena aku telah
lelah, bertahun-tahun hidup sendiri, aku ingin meluahkan segala yang tertahan
di pikiran, dan perasaanku.
Sejak pertemuan itu, aku diserang perasaan gundah. Aku
lalu curhat pada seorang teman, Hari namanya. Ku katakan bahwa aku sedang jatuh
cinta. Walau aku tak yakin, si Hari akan menanggapi serius ceritaku. Dan benar
saja, Hari menertawakanku. Berkata aku seperti banci.
“Kenapa sih, jatuh cinta saja ruwet? Tinggal bilang, “Aku
cinta kamu”, katanya sambil tertawa lebar. Ya, mungkin untuk sebagian orang,
menyatakan cinta memang enteng. Tapi tidak bagiku.
***
Senin, 4 Februari 2013
Aku dan Mika, begitu aku memanggilnya, menjadi semakin
dekat. Setiap sabtu malam, kami kerap meluangkan waktu untuk bertemu, sekedar
berbagi cerita, makan, dan nonton film, atau duduk di taman, menatap bintang, lampu-lampu kota, memperhatikan
orang yang lalu-lalang. Dan hari itu, di depan kursi yang kami duduki, ku
lihat seorang perempuan cantik bedandan menor, dengan belahan dada rendah, Ia sedang
berdiri dan terlihat sedang menunggu. Sempat aku berpikir, mungkin Ia seorang
pelacur yang sedang menunggu pelanggannya. Benar saja, beberapa menit kemudian,
aku melihat perempuan itu digandeng seorang lelaki tambun berambut setengah
putih. Berjalan berangkulan, menuju sedan mewah produksi Jerman. Hmm, beginilah
adanya kehidupan malam kota ini. Segala macam manusia ada. Dan manusia juga
yang dapat memberi nilai atas segala. Penilaian tersebut kerap dilekatkan secara
warna-warni, walau umumnya diwarnai hitam-putih.
Aku masih menatap jejak perempuan tadi, saat Mika menyandarkan
kepalanya di pundakku, Membuat darahku mengalir lebih cepat dari biasanya. memperlihatkan
lehernya yang jenjang. Sementara wangi parfum dan kulitnya yang mulus membuat
libidoko membuncah. Aku lirik jam tangan. Pukul delapan malam. Sengaja, aku
mengambil jarak, menanyakan apakah dia masih ingin jalan-jalan? Menelisik kota
yang tak pernah berhenti bernyanyi itu. Dia lalu mengajakku ke sebuah cafe yang sepertinya tidak cukup
terkenal di Surabaya. Pakaiannya yang merah-terang, membuat dia jadi pusat
perhatian.
***
Beberapa mata menelanjangiku. Aku cuek saja, meneguk
kopi, sambil merangkai kata-kata yang tepat untuk menunjukkan pearasaanku
padanya. Tak ada lagi alasan, malam ini aku harus memilikinya. beberpa jam
kemudian, Mika berkata ingin ke toilet. Dan baru melesat pergi setelah aku
berkata, “jangan lama-lama,”. Sementara itu, gelas kopiku telah kosong. Aku
memesan segelas wine pada seorang
pelayan. Sepuluh menit menanti, pikiranku semakin tak karuan. Aku membayangkan
bokongnya yang montok, dan bibirnya yang seksi. Keinginan untuk memilikinya
semakin tak terbendung. Sementara hari
semakin malam, ku lirik lagi jam tangan,
pukul 12 malam. Entah kenapa, aku merasa suasana dalam ruangan itu
semakin aneh. Musik berganti lagu-lagu romantis. Ku lihat semua tamu telah
duduk berpasangan. Tak ada lagi pelayan yang berlalu lalang, semua larut dalam
alunan musik. Wine yang ku pesanpun
tak datang.
Tiba-tiba, seorang lelaki naik ke atas meja, dan
mengatakan bahwa pesta segera dimulai. Aku bingung, karena Mika tak juga
datang. Tapi tak lama, dia telah kembali duduk di kursinya. Sepertinya habis
menambah polesan bedak dan gincu. Terlihat dari dandanan yang semakin tebal.
Pestapun dimulai. Botol-botol wine digelar, Semua yang ada diruangan itu berdansa berpasangan.
Menikmati lagu-lagu cinta bersama yang terkasih. Kami larut dalam pesta malam
itu. Sampai akhirnya, lelaki tadi meminta kami melepas pakaian. Awalnya aku ragu,
sampai Sheila yang melucuti pakaianku sambil berbisik, “Aku lupa bilang, kalau
disini tempat partynya kaum Gay Surabaya!,” katanya dengan senyum menggoda. Aku
hanya mesem-mesem bahagia.
Setelah tiga jam baru aku sadar, bahwa yang ada
diruangan itu semuanya lelaki. Ini duniaku, bersama orang-orang yang sejenis
denganku. Seorang brondong 20 tahunan mencolek bokongku. “Hm, manis juga Kakak,”
katanya,. Membuat Mika melotot tak suka. Aku senang, karena Mika cemburu. Kami
melanjutkan pesta hingga pagi menjemput. Tanpa sehelai pakaianpun, aku
menikmati tarian sensualnya, yang menampakkan seluruh bagian tubuhnya, bulu-bulu
halus di dadanya, juga penisnya yang agak kecil. Ya, bahunya tangguh, dadanya
pejal, pahanya liat, dan pantatnya bulat Sempurna! Aku menjilati lehernya. Atraksi
sensual di atas meja, goyang seksi, tak bisa kuhindari.
***
Minggu, 7 April 2013
Ya, begitu banyak
kemungkinan di dunia ini. Kenyataannya, kami teripilih sebagai pasangan gay termesra malam itu. Lelaki bernama
asli Jatmiko itu kini telah menjadi kekasihku. Terlebih dia mau menerima segala
kekuranganku, begitu juga sebaliknya. Aku tak lagi peduli dengan omongan mring disekitarku, termasuk penolakan dalam keluargaku. Ya, karena dengan ini aku benar-benar bahagia, menemukan dunia
yang sebenarnya, dan tuntas melepaskan gairah terpendam. Aku akan berteriak
pada dunia, bahwa aku seorang Gay!
Apa bedanya aku dengan George Michael, Rock Hudson, Elton John, Stephen Gately,
dan Mark Westlife yang punya orientasi sejenis? Kau tak suka? "its not my fuckin problem!


0 komentar:
Posting Komentar