• home
Home » »



 

Judul Buku :Rasta dan perlawanan
Penulis : Horace Campbell
Penerjemah : Dina Oktaviani
Peresensi : Androm_Edha
Cetakan Pertama, April 2009

Berbicara Rasta, bukan hanya tentang rambut gimbal, reggae, Bob Marley atau kupluk warna hijau-merah-emas. Tapi juga tentang sebuah realitas sosial serta akar-akar gerakan perlawanan pada masa perbudakan dan konfrontasi rasisme masyarakat kulit hitam.

Dalam buku yang ditulis Horace Campbell ini kita akan mendapat pencerahan tentang sejarah gerakan Rastafari  secara sistematis. Dari awal mula asal-usul kelahiran serta perkembangan, dan lika-liku perjuangannya sebagai sebuah gerakan Ideologis dengan tujuan-tujuan yang sangat jelas dan mendasar. Yang pada mulanya, Rastafari hanyalah sebuah gerakan yang berasal dari perdagangan budak atlantik di Afrika, di mana budak-budak Afrika diangkut ke benua Amerika khususnya kepulauan karibia untuk dijadikan budak di perkebunan tebu koloni . Kekejaman-kekejaman dalam konteks jajahan ini berlangsung selama ratusan tahun. Hingga pada tahun tigapuluhan, ketika perkembangan pemerintahan menjadi semakin memburuk, dan kasus pelanggaran HAM yang merajalela, mendorong dan membangkitkan semangat pemberontakan dan perlawanan kaum Rastafari yang merasa di marjinalkan. Pemberontakan inilah yang menjadi tonggak sejarah yang sangat penting dan signifikan bagi kaum Rastafari dan pemerintah kolonial.
Dalam hal ini, yang berperan penting adalah Marcus Garvey ,seorang Rastafari sekaligus aktivis organisasi nasionalis dan anti-imperialis. Garveylah yang menganjurkan adanya pemberontakan agar mereka lepas dari jajahan masyarakat kulit putih.
Yang tak kalah penting diulas tuntas di dalam buku ini juga adalah proses perkembangan musik reggae pada akhir tahun enam puluhan, setelah melewati masa-masa perbudakan dan penjajahan, pengaruh gerakan Rastafari pada perkembangan budaya pop di buktikan oleh fakta kemunculan reggae yang juga menandai konsulidasi bentuk-bentuk kesenian di Jamaika. Perkembangan musik reggae dan peredarannya merupakan upaya kaum Rastafari dalam menyampaikan pesan kepada dunia kulit hitam di Jamaika. Lagu-lagu reggae lebih memberi tekanan atas perubahan sosial di masyarakat serta penebusan pembebasan kaum kulit hitam di Afrika. Tekanan pada lirik lagu reggae yang di kombinasikan dengan dentuman bass dan pukulan djimbei menjadi kekuatan tersendiri  pada lagu-lagu Rasta. Pada periode perkembangannya, reggae mulai mempertegas kembali nilai-nilai budaya dalam perkembangan kepercayaan di masyarakat. Reggae merupakan sumber keberanian dan dukungan moral yang tak ada habis-habisnya. Seniman-seniman reggae seperti Bob Marley selalu taat pada sejumlah prinsip-prinsip gerakan rastafari. Melalui reggae Bob Marley menginspirasi spirit gerakan dan membantu rakyat Jamaika menemukan akar kekayaan sejarah mereka. Seperti spirit yang dituangkan Bob Marley dalam lagu “war” yang menggambarkan dukungan, semangat pembebasan anti rasisme.
Ketika kita membaca lembar-demi lembar buku yang diterbitkan oleh INSIST Press ini, kita akan terhanyut di dalam pasang surut gerakan rastafari, hingga ke bagian-bagian yang membuat kita miris dan hanya bisa membatin ”Damn!” Begitu bermunculan "kaum rasta palsu", seta penciptaan "citra rasta" versi pemerintah yang berkuasa hingga kesalahan-kesalahan politik maupun kesalahan-kesalagan strategi dan taktik di internal kaum Rasta sendiri.
Namun, yang paling membuat kita mengerutkan dahi adalah ketika beberapa orang yang menganggap bahwa  rasta hanya jadi gerakan atributif saja (bagi orang-orang yang tidak terlalu memahami dinamika dan dialektika panjang gerakan rasta seperti saya sebelum baca buku ini). Yang penting rambut gimbal, musik reggae, ganja, Dimana-mana terdengar teriakan yoman, uye, dan lain-lain. Tanpa memikirkan dan mengingat sejarah panjang gerakan  yang dilumuri darah dan derita panjang ini.
Hal ini terjadi karena kebanyakan orang tidak mau belajar sejarah atau meneliti perjalanan sejarah Rasta yang hanya di anggap sebagian orang sebagai hiburan semata, bahkan ada yang merasa sejarah merupakan masa lalu yang sudah berlalu dan biarlah berlalu. Sehingga banyak terjadi penafsiran-penafsiran sejarah yang asal-asalan dan di putar balikkan faktanya. Begitu juga dengan Rasta. Banyak orang hanya mengerti Rasta hanya sekedar gaya hidup yang mengikuti segala bentuk, yang hanya mreka ketahui luarnya saja, seperti ganja,  reggae, pantai, damai, asik, merah-hijau-emas, rambut gimbal, dan lain-lain. Sementara idealisme dan philosofinya entah dipahami atau tidak.
Benang merah yang dapat kita ambil dalam buku ini bahwa, idealisme Rasta bukanlah seperti sebuah tren yang bisa dijadikan komoditas. Rasta adalah sebuah gerakan idealisme yang mengandung kritik tajam terhadap ketimpangan-ketimpangan sosial. Simbol-simbol yang dipakai juga bukan tanpa makna. Tapi merupakan simbol-simbol yang mengandung perlawanan. Tak ada satupun dari simbol-simbol yang dipakai tersebut muncul begitu saja. Simbol-simbol bendera, singa, rambut gimbal, dan gaya khusus merupakan refleksi dari suatu gaya perlawanan.
Penulis buku ini, horace campbell adalah seorang rasta sekaligus seorang Marxis. Jadi sudah bisa kita duga keberpihakan buku ini kemana, namun dia mencoba untuk cukup objektif dengan menampilkan fakta dan data. Buku ini sangat tepat untuk dijadikan salah satu referensi tentang gerakan rasta,tentang sejarah dan perkembangannya. Terutama bagi mereka yang mengaku dirinya sebagai seorang Rastafara atau penikmat musik reggae.

0 komentar:

Posting Komentar