Androm
Gender merupakan konsep yang membedakan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan aspek yang berkaitan dengan peran, fungsi, hak, sifat, perilaku yang direkayasa sosial gender merupakan hasil konstruksi sosial budaya. Beberapa waktu lalu, ketika saya mengikuti sekolah gender di Malang, Dr. Hj.Mufidah Ch,Mag mengatakan bahwa konsep gender bersifat dinamis, dan dipengaruhi oleh umur, ras, etnik, agama, lingkungan geografi, pendidikan, sosial, budaya, ekonomi dan politik.
Merunut terminologi Freire yang acap kali menggunakan terminologi kaum penindas dan kaum tertindas sebagai subyek-obyek pelaku. Yang dimaksud dengan orang tertindas sendiri bisa berupa tertindas oleh rezim otoriter, struktur sosial yang tidak adil, diskriminatif, serta tertindas karena gender, ras, warna kulit dan sebagainya. Hal ini kontekstual dengan apa yang dialami oleh kebanyakan perempuan saat ini. Penyebabnya tak lain karena rendahnya pendidikan yang didapat oleh perempuan.
Rendahnya kualitas serta ketimpangan pendidikan perempuan tersebut menyebabkan sejumlah masalah. Seperti daya saing perempuan di dunia kerja menjadi rendah. Karena masih banyak perempuan yang belum dapat menembus dunia kerja. Karena perempuan yang mengenyam pendidikan formal lebih sedikit dibanding laki-laki. Dan parahnya lagi perempuan malah terjebak pada arus modernitas yang malah membunuh dirinya sendirinya.
. Menurut Dr.Sayekti Pribadiningtiyas yang juga mengisi materi pada sekolah Gender di Batu Malang, mengungkapkan bahwa jumlah pendidikan yang diterima anak gadis berbeda dari satu negara dengan lainnya. Di Afrika sub-Sahara,93% anak laki-laki terdaftar di tingkat sekolah dasar,tetapi anak gadis hanya 77%. Berbeda dengan Amerila Latin dan Karibia dimana anak gadis hampir semuanya terdaftar di sekolah dasar.Pada tahun 1950-1960 seorang tokoh bernama Esther Boserup mengatakan bahwa perempuan tidak hanya dibatasi oleh peran reproduktifnya sebagai seorang istri dan ibu, ia malahan melihat produktivitas mereka dan menekankan peran vital perempuan dalam sebuah perubahan pada perangkat industrialisasi, urbanisasi dan penyatuan ekonomi.
Sedangkan data dari dispendik jember 2009 sendiri menyebutkan bahwa sedikitnya 53.674 warga berusia lebih dari 45 tahun yang tersebar di kabupaten Jember masih buta aksara. Dan lebih dari 50 % diantaranya adalah perempuan. Ini menunjukkan bahwa partisipasi pendidikan perempuan di jember masih tergolong rendah. Bahkan jika dilihat secara keseluruhan, tingkat buta huruf perempuan Indonesia dua kali lebih banyak dibanding laki-laki.
Padahal, sudah seharusnya perempuan dilibatkan dalam setiap aktifitas dan menjadikan perempuan sebagai bagian dari pembangunan nasional. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh menteri pemberdayaan perempuan yakni ibu meutia hatta dalam narasinya pada hari perempuan internasional beberapa waktu lalu. Beliau mengungkapkan bahwa, Kemajuan pembangunan bangsa dan negara tak bisa dilepaskan dari peran perempuan, tanpa perempuan, pembangunan khusunya dari segi SDM (sumber daya manusia) tidak bisa optimal.
Oleh karena itu, melihat ketidak adilan gender yang terjadi, saya sebagai Mahasiswa yang aktif di organisasi di bidang pemberdayaan perempuan sekaligus mahasiswa dari pulau madura, ingin membawa semangat perubahan yang pernah dibawa oleh Kartini. Saya tidak ingin ada perempuan-perempuan yang masih bisa tertinggal akibat rendahnya pendidikan yang dia dapat. Terlebih dalam era globalisasi seperti saat ini, dimana arus perubahan terjadi dengan cepat. Karena seprti yang kita tahu, orang Madura masih menganggap bahwa perempuan tidak perlu mendapat pendidikan tinggi. Bahwa perempuan hanya pantas berada di dapur, sumur, dan kasur.
Saya sebagai calon agent of change, terlebih dalam era globalisasi seperti saat ini, dimana arus perubahan terjadi dengan cepat. Sehingga menuntut setiap person yang ada dalam sistem global ini untuk menyesuaikan diri dengan cepat. Nah disinilah kemudian perempuan begitu terlihat nyata bahwa perempuan Indonesia harus memiliki kecerdasan atau nalar sadar. khususnya pada generasi muda perempuan bangsa ini. Peran prempuan pasti akan diakui dan diterima sebagai kemampuan yang sebanding dengan laki-laki, bahkan ada yang melebihinya.
Hidup perempuan Indonesia!!!


0 komentar:
Posting Komentar